Ohiya waktu itu tanpa sengaja gue merenungkan hal ini,
karena ada seseorang menyuruh gue buat bikin profil dalam 300 kata, awalnya gue
pikir ini angka yang cukup banyak. Gimana mungkin gue bisa ngomongin diri gue
sendiri dalam 300 kata
Tapi setelah gue menulis, gue berakhir dengan 380 kata. Hahaha!
Bukannya gue narsis, tapi bener deh… gue tipe orang yang menyukai kesusastraan
dan gue mempercayai kekuatan kata dan gue pun percaya bahwa sikap orang itu
tercermin dari caranya bertutur, juga dari pengetahuannya bertata bahasa.
Nah, kembali lagi, setelah gue submit tulisan gue, yang gue
tulis dengan sangat memperhitungkan keindahan kata-katanya, ternyata orang itu
mengeditnya sedemikian rupa sehingga Cuma jadi 3 paragraf dari 5. Gue agak
terkejut juga, gue membacanya dengan speed-reading, karena gue udah terlalu
kecewa.
Sedihnya lagi, kata-kata itu didistorsikan sehingga setiap
kalimatnya hanya berisi data yang mengandung informasi penting, padahal gue
menulisnya dengan gaya bahasa gue sendiri dan mengandung beberapa opini atau
sudut pandang pribadi yang cukup esensial, karena dari situlah pembaca dapat
menilai orang seperti apa gue ini, dengan cara tutur bahasa gue.
Nyatanya, mereka para jurnalis, selalu mendistorsi sebuah
informasi supaya sifatnya benar-benar lugas dan padat. Gue tau, yang mereka
inginkan adalah membuat artikelnya menjadi seinformatif mungkin , tapi
sayangnya mereka kurang memperhatikan opini-opini dan sudut pandang pribadi si
narasumber, detail-detail yang sangat halus, kaya yang gue bilang barusan. Informatif
tidak mesti singkat, tidak mesti lugas. Kalaupun pengertian gue salah,
setidaknya itulah yang gue pikirkan tentang kesusastraan.
Kesusastraan memiliki nilai estetika tinggi, tulisannya
halus mendalam, dan detail-detail yang halus itu sebenarnya esensial. Inilah perbedaan
kesusastraan dengan jurnalisme, walaupun mereka sama-sama menulis.
Mungkin lain kali bakal gue post tentang tulisan asli gue
dengan tulisan yang sudah diedit si jurnalis ;)
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think