Minggu, 23 Juni 2013

peran permen karet bagi gue :O

“Apa tranquilizer lo?”
Maka setiap orang selalu punya jawaban berbeda-beda.

Ada yang tenang dengan nyium aromaterapi, ada orang yang tenang dengan menangis, ada orang yang tenang dengan mengalihkan pikirannya yang kacau ke membaca, ada orang yang tenang dengan menjadi sendirian, ada yang tenang dengan makan makanan ga karuan, ada yang tenang dengan mengkonsumsi coklat, ada yang tenang dengan melupakan masalahnya (mungkin sejenak) dengan membawanya tidur, ada yang tenang dengan mengkonsumsi zat adiktif, yang paling banyak jaman sekarang orang tenang dengan menghisap rokok. Ya tentu. Memang rokok memiliki zat tertentu untuk menenangkan pikiran, seperti peran dopamine yang terkandung dalam coklat.

Tapi kalau gue pribadi, tranquilizer gue dari masa ke masa adalah permen karet.
Ini bukan tentang zat yang terkandung didalamnya, tetapi tentang teksturnya yang bisa gue kunyah sesuka hati gue.
Gue bukan sok tengil kebarat-baratan yang kerjaannya ngunyah dimana-mana, tapi memang dari kecil gue sangat menyukai permen karet. Gue bisa ngunyah permen karet 12 jam, dan ketika gue mau makan nasi atau ngemil yang lain, gue tempelin itu permen karet yang udah hambar ke dengkul gue, dan mulai memakan yang lain, setelah selesai makan lalu gue cabut permen karet hambar itu dan gue kunyah lagi.
Gue udah jago bikin balon besar-besar tanpa effort, gue bisa ngatur besarnya, dan gue bisa ngatur kapan balon itu mau gue pecahin. Gue udah ngerti banget karakteristik dari benda kenyal yang lentur, tempat dimana enzim ptyalin gue melekat bersatu dengan benda itu, dan konyolnya gue biarkan benda itu bermain dimulut gue sampai 12 jam.

Kenapa ya bisa jadi tranquilizer? Gue juga bingung, waktu kecil jelas gue mengkonsumsi permen karet karena semua anak kecil memiliki permen favorit mereka sendiri2, dan memang dari dulu gue lebih pilih permen karet dari segala macam jenis permen. Tapi menjelang dewasa, saat emosi diri sudah bisa mulai dikendalikan kadang permen karet adalah penawar gue dari segala macam racun hati.

Saat gue kecewa, gue bisa ngambek, nangis, dan segala macam. Dengan mengkonsumsi permen karet rasanya semua amarah gue itu bisa teralihkan, gue bisa memusatkan pikiran gue ke segala otot-otot mulut untuk mengunyah dan mengunyah lagi. Dan yang pastigue gatau gimana jelasinnyasaat ekspresi muka gue udah ngga karuan karena nahan emosi-emosi negatif, guratan muka akibat otot-otot muka gue yang ngga karuan itu bisa dinetralkan dengan mengunyah permen karet. Dan pelupuk gue yang udah penuh dengan air mata, dengan permen karet dan gerakan mengunyah ditambah otak yang teralih fokus, bisa menampung dan menahan air mata gue yang nyaris meleleh dan menjadikannya lama kelamaan mengering. Itulah alasan permen karet sebagai penenang gue. Penetral gue.

Nah beda lagi disaat gue merasa muak, dengan orang-orang disekitar gue, disaat gue berhadapan dengan orang-orang bodoh, bagi gue didunia ini Cuma ada 2 tipe manusia = yang bodoh, dan yang cerdas. Orang-orang yang membosankan, artifisial, dan membuat gue muak adalah orang bodoh. Dan makin parahnya lagi mereka sok pintar. Sedangkan orang yang apa adanya dan berbicara seperlunya adalah orang cerdas. Itu menurut gue. Sisanya, penggolongan orang bodoh dan orang cerdasyang gue bilang tadisesuai dengan arti sesungguhnya. 
Dengan permen karet, gue bisa jadi tuli kalau gue terjebak dengan percakapan dengan orang bodoh. Gue memang bersifat apatis. Tapi gue bukan sok apatis loh ya. Gue memang orang IPA, eksak, logis, tapi sebenarnya gue juga mempelajari sifat manusia, sifat diri gue sendiri, diri gue doang lebih tepatnya. (Karena setelah gue pelajari, seperti yang gue bilang tadi(lagi), manusia Cuma terbagi dua;bodoh dan cerdas.) Siapa gue, kenapa gue, bagaimana gue, dan apa gue ini. 
Dan gue mengambil kesimpulan, sikap apatis gue terlalu tinggi, namun menjadi apatis ini bukan pilihan, tapi terbentuk karena proses adaptasi. 
Gue mempelajari orang2 sekitar dulunya, dan semakin gue pelajari, semakin banyak orang bodoh disekitar gue, mereka membosankan, mereka artifisial, mereka memuakkan dan mereka menjijikkan. Mungkin banyak orang yang menggolongkan gue ke golongan manusia “bodoh” versi mereka, tapi gue ngga peduli, karena gue melakukan hal yang sama.
Dan karena gue tau gue terlalu banyak membenci orang, gue menjadi apatis. Itu lebih baik.

Ohya, dan yang paling penting tentang permen karet, adalah ketika gue marah.
Lidah gue sudah terlalu lihai memainkan benda lunak lentur itu, gue bikin balon dengan besar secukupnya, yang paling penting disini bukan ukuran, melainkan ketebalan lapisan dindingnya, harus cukup tebal, kemudian gue sedot kencang2 balon itu sehingga lapisan dinding itu meletup keras-keras, gue sedot berkali-kali, balonnya berletup pula berkali-kali, sampai balonnya habis mengecil. Dan bunyinya berisik. Dari situlah gue merasa emosi gue meletus keluar bersama letupan permen karet itu. Dan disitulah emosi gue semakin tipis seiring mengempisnya balon tadi. Apabila itu masih kurang, gue terus melakukan hal yang sama sampai amarah gue benar-benar hilang.

Atau kadang gue makan permen karet secara Cuma-Cuma aja. Memiliki sesuatu untuk dikunyah adalah hal yang menyenangkan bagi gue. Sekarang setelah dewasa, rasa permen karet sama sekali ngga gue perhitungkan. Tapi keberadaan benda lunak yang lentur itulah yang sangat gue perhitungkan. Yang memberi aktifitas bagi rongga mulut gue, yang mengalihkan otak gue dari emosi-emosi yang tidak terlampiaskan. Penawar gue. penetral gue.


Jadi, apa tranquilizer lo?

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think