“Apa tranquilizer lo?”
Maka setiap orang selalu punya jawaban berbeda-beda.
Ada yang tenang dengan nyium aromaterapi, ada orang yang
tenang dengan menangis, ada orang yang tenang dengan mengalihkan pikirannya
yang kacau ke membaca, ada orang yang tenang dengan menjadi sendirian, ada yang
tenang dengan makan makanan ga karuan, ada yang tenang dengan mengkonsumsi
coklat, ada yang tenang dengan melupakan masalahnya (mungkin sejenak) dengan
membawanya tidur, ada yang tenang dengan mengkonsumsi zat adiktif, yang paling
banyak jaman sekarang orang tenang dengan menghisap rokok. Ya tentu. Memang
rokok memiliki zat tertentu untuk menenangkan pikiran, seperti peran dopamine yang
terkandung dalam coklat.
Tapi kalau gue pribadi, tranquilizer gue dari masa ke masa
adalah permen karet.
Ini bukan tentang zat yang terkandung didalamnya, tetapi
tentang teksturnya yang bisa gue kunyah sesuka hati gue.
Gue bukan sok tengil kebarat-baratan yang kerjaannya ngunyah
dimana-mana, tapi memang dari kecil gue sangat menyukai permen karet. Gue bisa
ngunyah permen karet 12 jam, dan ketika gue mau makan nasi atau ngemil yang
lain, gue tempelin itu permen karet yang udah hambar ke dengkul gue, dan mulai
memakan yang lain, setelah selesai makan lalu gue cabut permen karet hambar itu
dan gue kunyah lagi.
Gue udah jago bikin balon besar-besar tanpa effort, gue bisa
ngatur besarnya, dan gue bisa ngatur kapan balon itu mau gue pecahin. Gue udah
ngerti banget karakteristik dari benda kenyal yang lentur, tempat dimana enzim
ptyalin gue melekat bersatu dengan benda itu, dan konyolnya gue biarkan benda
itu bermain dimulut gue sampai 12 jam.
Kenapa ya bisa jadi tranquilizer? Gue juga bingung, waktu
kecil jelas gue mengkonsumsi permen karet karena semua anak kecil memiliki
permen favorit mereka sendiri2, dan memang dari dulu gue lebih pilih permen
karet dari segala macam jenis permen. Tapi menjelang dewasa, saat emosi diri
sudah bisa mulai dikendalikan kadang permen karet adalah penawar gue dari
segala macam racun hati.
Saat gue kecewa, gue bisa ngambek, nangis, dan segala macam.
Dengan mengkonsumsi permen karet rasanya semua amarah gue itu bisa teralihkan,
gue bisa memusatkan pikiran gue ke segala otot-otot mulut untuk mengunyah dan
mengunyah lagi. Dan yang pasti—gue gatau gimana jelasinnya—saat ekspresi muka
gue udah ngga karuan karena nahan emosi-emosi negatif, guratan muka akibat
otot-otot muka gue yang ngga karuan itu bisa dinetralkan dengan mengunyah
permen karet. Dan pelupuk gue yang udah penuh dengan air mata, dengan permen
karet dan gerakan mengunyah ditambah otak yang teralih fokus, bisa menampung
dan menahan air mata gue yang nyaris meleleh dan menjadikannya lama kelamaan
mengering. Itulah alasan permen karet sebagai penenang gue. Penetral gue.
Nah beda lagi disaat gue merasa muak, dengan orang-orang
disekitar gue, disaat gue berhadapan dengan orang-orang bodoh, bagi gue didunia
ini Cuma ada 2 tipe manusia = yang bodoh, dan yang cerdas. Orang-orang yang
membosankan, artifisial, dan membuat gue muak adalah orang bodoh. Dan makin
parahnya lagi mereka sok pintar. Sedangkan orang yang apa adanya dan berbicara
seperlunya adalah orang cerdas. Itu menurut gue. Sisanya, penggolongan orang bodoh dan orang cerdas—yang
gue bilang tadi—sesuai dengan arti sesungguhnya.
Dengan permen karet, gue bisa jadi
tuli kalau gue terjebak dengan percakapan dengan orang bodoh. Gue memang
bersifat apatis. Tapi gue bukan sok apatis loh ya. Gue memang orang IPA, eksak,
logis, tapi sebenarnya gue juga mempelajari sifat manusia, sifat diri gue
sendiri, diri gue doang lebih
tepatnya. (Karena setelah gue pelajari, seperti yang gue bilang tadi(lagi),
manusia Cuma terbagi dua;bodoh dan cerdas.) Siapa gue, kenapa gue, bagaimana
gue, dan apa gue ini.
Dan gue
mengambil kesimpulan, sikap apatis gue terlalu tinggi, namun menjadi apatis ini
bukan pilihan, tapi terbentuk karena proses adaptasi.
Gue mempelajari orang2
sekitar dulunya, dan semakin gue pelajari, semakin banyak orang bodoh disekitar
gue, mereka membosankan, mereka artifisial, mereka memuakkan dan mereka
menjijikkan. Mungkin banyak orang yang menggolongkan gue ke golongan manusia
“bodoh” versi mereka, tapi gue ngga peduli, karena gue melakukan hal yang sama.
Dan karena gue tau gue terlalu banyak membenci orang, gue
menjadi apatis. Itu lebih baik.
Ohya, dan yang paling penting tentang permen karet, adalah
ketika gue marah.
Lidah gue sudah terlalu lihai memainkan benda lunak lentur
itu, gue bikin balon dengan besar secukupnya, yang paling penting disini bukan
ukuran, melainkan ketebalan lapisan dindingnya, harus cukup tebal, kemudian gue
sedot kencang2 balon itu sehingga lapisan dinding itu meletup keras-keras, gue
sedot berkali-kali, balonnya berletup pula berkali-kali, sampai balonnya habis
mengecil. Dan bunyinya berisik. Dari situlah gue merasa emosi gue meletus
keluar bersama letupan permen karet itu. Dan disitulah emosi gue semakin tipis seiring
mengempisnya balon tadi. Apabila itu masih kurang, gue terus melakukan hal yang
sama sampai amarah gue benar-benar hilang.
Atau kadang gue makan permen karet secara Cuma-Cuma aja.
Memiliki sesuatu untuk dikunyah adalah hal yang menyenangkan bagi gue. Sekarang
setelah dewasa, rasa permen karet sama sekali ngga gue perhitungkan. Tapi
keberadaan benda lunak yang lentur itulah yang sangat gue perhitungkan. Yang
memberi aktifitas bagi rongga mulut gue, yang mengalihkan otak gue dari
emosi-emosi yang tidak terlampiaskan. Penawar gue. penetral gue.
Jadi, apa tranquilizer lo?
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think