original
Diakhir tahun 1995, di rumah sakit
bilangan Bekasi Barat, saya lahir. Tepatnya pada tanggal 10 Desember, tahun 1995. Saya yakin saya adalah orok yang
buruk rupa, ubun-ubun saya nyaris tanpa rambut, mata saya kecil, dibawahnya ada
dua lubang hidung tanpa batangnya, dan bibir saya tebal ngga karuan. Seminggu
kemudian, akhirnya orang tua saya menemukan nama yang tepat untuk saya;
Chairunnisa Niken Lestari. Chairunnisa
adalah pemberian ibu saya, yang mana adalah doa supaya kelak saya jadi
perempuan baik. Niken adalah pemberian ayah saya yang dipercaya melambangkan
kebahagiaan, dan kehormatan. Sedangkan Lestari adalah kata sifat dari bahasa
Indonesia, yaitu abadi.
Saya bersekolah di TK islam Al-ikhlas,
dan saya memiliki 2 tahun yang menyenangkan. Lalu saya bersekolah di SD Islam
Al-Azhar 6 Jakapermai, selama 5 tahun. Yang jelas saya ingat adalah tumbuhnya
doktrin-doktrin tentang iman kepada islam dan bahwa Allah Maha Tunggal,
sehingga saya mendapatkan dasar agama yang cukup mengakar. Nah, ditahun keenam
saya pindah ke SDN 09 Jakarta Timur, tujuan awalnya adalah numpang lulus agar
dapat status lulusan Jakarta.
Cita-cita kecil saya untuk
bersekolah di SMPN 109 tercapai, disini saya menghadapi masa pubertas yang
cukup gila juga, peer preasure yang
bener-bener jadi pergolakan diusia ke-14 sampai 15 tahun saya. Muncul lagi
cita-cita kecil saya yaitu bersekolah di SMAN 81, tapi pada akhirnya saya
sadari pencapaian-pencapaian ini terlalu kecil untuk dibanggakan.
Ditahun pertama saya bersekolah di
SMA 81 tentu ada demo ekskul, awalnya saya hanya penasaran dengan senior-senior
saya yang memakai jas merah marun, setelah saya mengetahui bahwa ekskul itu
bernama PIDAS, dan apa itu PIDAS, saya tertarik untuk bergabung. Karena pada
dasarnya saya suka membaca dan cukup suka menulis. Tapi pada akhirnya saya tahu
bahwa pidas adalah ekskul semi-jurnalistik, sedangkan minat menulis saya lebih
mengarah ke kesusastraan. Jurnalisme mengolah data dan informasi, kesusastraan
mengolah kata dan memperhitungkan baik-baik nilai estetika. Jurnalisme adalah
fakta, kesusastraan bisa jadi fiksi.
Saya menemukan sedikit penyimpangan
minat, tapi ibu saya bilang tuntaslah dalam mengerjakan sesuatu, maka saya
selalu berusaha menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya masuk ke kompartemen mading,
dan saya terpilih menjadi salah satu anggota dewan redaksi; sekretaris muda.
Pada tahun kedua saya di SMA, akhirnya saya diangkat menjadi parinata pidas.
Oh, dan saya pun resmi sebagai siswi IPA. Bila ditanya kenapa saya bisa jadi
parinata maka jawaban saya adalah: saya tidak bekerja keras tapi saya bekerja
cerdas. :D
editan
Chairunnisa Niken Lestari lahir di akhir tahun 1995, di sebuah rumah sakit di bilangan Bekasi Barat, tepatnya pada tanggal 10 Desember. “Chairunnisa” adalah nama pemberian ibunya yang merupakan sebuha doa agar kelak ia tumbuh menjadi perempuan yang baik. Sementara itu, “Niken” adalah nama pemberian ayahnya yang dipercaya melambangkan kebahagiaan dan kehormatan, sedangkan “Lestari” berarti abadi.
Sebagaimana tradisi dari tahun ke tahun di SMAN 81 Jakarta, di tahun pertama Niken bersekolah juga ada pertunjukan demo ekstrakurikuler (ekskul). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan beragam kegiatan ekstrakuriker yang dimiliki sekolah. Salah satu ekskul yang membuat Niken cukup penasaran adalah PIDAS yang pada saat itu tampil mengenakan jas merah marun. Setelah mencari tahu lebih dalam mengenai PIDAS, Niken pun tertarik untuk bergabung. Salah satu alasannya adalah karena ia suka membaca dan menulis, sekalipun lebih ke arah lebih mengarah ke kesusastraan.
Namun demikian, Niken tetap merasa menemukan sedikit penyimpangan minat dalam pilihannya ini, tapi ibunya mengatakan bahwa ia harus menuntaskan segala yang telah ia mulai, dan itulah yang ia lakukan. Niken kemudian masuk ke Kompartemen Mading dan kemudian terpilih menjadi salah satu anggota Dewan Redaksi; sekretaris muda. Pada tahun kedua Niken di SMAN 81, NIken diangkat menjadi Parinata PIDAS SMAN 81 Jakarta. Menurutnya, jika ditanya kenapa ia bisa menjadi parinata (ketua) maka jawabannya adalah, “Saya tidak bekerja keras, tapi saya bekerja cerdas.”
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think