jadi waktu itu ceritanya, gue marah besar sama ibu gue. Ibu
gue yang gue anggap belahan jiwa gue, yang sesungguhnya.
Gue nyampah mungkin dirumah, karena gue melakukan apapun
suka-suka gue sendiri. Tapi ya begitulah gue mandang hidup. Untuk apa lo
menjadi produktif disaat lo butuh istirahat? Seharian itu gue dikamar, dengan
sandang sangat minimal membalut tubuh gue. Gue tiduran seharian dikamar main
laptop, dan solat saat waktunya, dan keluar kamar hanya untuk makan.
Maghribnya, ibu gue masuk kamar gue dan jengkel banget
kayanya sama gue.
Dia mukul gue tepat ditulang kering gue.
Dan itu tidak bisa gue toleransi.
“ma, ini beda” kata gue setengah nahan nangis.
“ya memang, biar kamu tahu. Biar kamu mengerti.” Kata beliau
dengan mata amat nanar.
Dan gue semakin jengkel, dan sakit hati. Dia pergi dari
kamar gue. Dan gue gabisa berenti menangis, meraung.
Ini sepele, tapi sebenarnya ini akumulasi dari rasa muak gue
sama mama gue yang baru jadi janda, masa transisinya.
Papa gue hilang, ketiga kaka gue hilang-musiman-mereka pd
kuliah diluar kota, teman2 gue menghilang perlahan karena kelas baru gue yang
sangat gue sesali, dan yang tersisa hanya ibu gue. Ibu gue yang gue anggap
belahan jiwa gue. Ibu gue yang menjanda. Ibu gue yang dalam masa transisi. Dan
gue benci ibu gue dengan masa transisinya. Dia gila, gue pikir. Dan gue
mengabaikan dia, gue lebih suka sendirian.
Dan itulah puncaknya, dia memukul gue.
Disitu gue mulai berpikir tentang kematiannya, dan bagaimana
kalau yang mati dia, bukan papa.
Gue berjanji sama diri gue, gue ga akan melakukan kontak
apapun dengan dia kecuali untuk minta duit HAHA.
Tapi, my friend, dari jaman ke jaman, itu adalah janji yang PALING
mudah terlanggar. Karena pada akhirnya, secara naluri dan insting mamalia, kita
ngga akan bisa hidup jauh-jauh dari induk kita.
Okay, jadi dari maghrib sampai pagi lagi gue ngga keluar
kamar, dan gue tahan rasa kelaparan gue dengan membawanya tidur.
Paginya, gue bangun jam 11 siang. Gue lgsg mandi dan
berangkat kerumah temen gue, kabur sementara ceritanya. Gue keluar kamar sambil
baca bismillah, dan nyelonong ke pintu utama untuk keluar dari rumah. Gue liat
(tanpa kontak mata) ibu gue ngeliat gue pergi, dan dia ga melakukan apa2. Tapi
dia tetap asik ngobrol sama ketiga kakak gue yang lagi libur dirumah.
Gue keluar rumah, dan gue menuju ke tempat makan untuk
sarapan, gue udah lama bgt ga makan. Abis itu ke supermarket beli cemilan, dan
berangkatlah gue naik angkot kerumah sahabat gue dari SD, yang paling mengerti
gue, rara. Dijalan gue kabarin apa yang terjadi dan dia seperti biasa menerima
gue dirumahnya, ngasih makan gue, ngasih gue tempat bernaung sementara, dan
yang pasti menghibur dan menemani gue. Gue certain tentang penyesalan gue atas
banyak hal, mama gue yang jadi gila, papa gue yang sangat gue rindukan, dan
kelabilan gue menghadapi hal-hal semacam ini.
Sampai sana gue senang-senang sama rara, seperti biasa,
rasanya kaya gaada apa-apa. Gue cek hp gue berkali2. Bbm, dari temen2.
“mama lo ga nyariin ken?”
“kaga” kata gue sok sumringah, nahan shock juga sebenernya.
Biasanya ibu gue nyariin gue terus loh, main kemana sama
siapa plg jam brp, selalu diinterogasi.
Menjelang malem, akhirnya mas adit nelfon, dia bilang dia
lagi dirumah temen sama mas danto dan mas fandi, dan intinya dia nawarin pulang
bareng.
Setelah ketiga kaka gue selesai hangout sama temennya
datenglah mereka menjemput gue.
Dimobil gue nangis lagi gara-gara cerita tentang kelakuan
ibu gue yang udah gabisa gue tahan lagi, gue kesel bgt sama dia waktu itu. Dan
kakak-kakak gue yang laki-laki, tegar, dewasa, dan lebih berpengalaman
nasehatin gue ini itu, mata gue terbuka dikit.
“dia daritadi ribut bgt ken, nyuruh kita bertiga nyariin lo
terus dari tadi lo pergi” kata mas fandi.
That’s it, my friend. Seorang ibu, bagaimanapun kita saling
acuh, punya caranya sendiri untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.
Sekarang mata gue udah terbuka lebar. Bahwa seharusnya gue
lah yang mengerti ibu gue.
Habis itu ketiga kakak laki2 gue yang dodol, ngajak gue
makan diluar, dan menantang gue untuk beliin mama makanan kesukaannya sambil
minta maaf. Dan mereka bertiga udh dengan antusias bikin scenario lengkap yang
harus gue ikutin, awalnya gue menolak mentah-mentah, tapi mereka mau ngasih gue
10ribu rupiah kalo gue mau, dan dengan murahannya gue akhirnya mengikuti aturan
main mereka.
Sampai dirumah, gue bener2 nervous buat ngasih mama roti
bakar yang udah gue beliin, dan meminta maaf. Dan setelah dibujuk
berkali-kali(karena gue membatalkan perjanjian kami) akhirnya gue lakuin juga
tuh kcenario
“ma, nih niken beli buat mama” kata gue nyodorin tuh roti.
Dan kakak gue dibelakang diam2 siap dengan segala alat
perekamnya.
“mama kenyang dek, simpen aja. Thanks banget ya” respon emak
yang sangat sangat ga gue duga.
Trs gue kicep, dan ngibrit. Kakak gue Cuma ngakak2 aja ntah
apa yg lucu.
Tapi itu respon yg bener2 diluar dugaan, gue pikir ibu gue
bakal ngacangin gue.
Ternyata ya… begitu. Dan dia mengucapkan “terima kasih”
Esok paginya, semua normal kembali. Dan dia kembali menjadi
belahan jiwa gue.
Seperti yang gue bilang barusan, janji2 untuk tetap marah
sama ibu kita adalah janji paling sepik sedunia.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think