jadi semalam latarnya seharusnya disebuah teater, ada yang bilang teater di daerah london ada yang bilang teater didaerah saudi arabia, itulah kekacauan dan keacakan sebuah mimpi.
tapi yang jelas, gue nonton ber6, ada 3 kakak-kakak gue, dan mama papa gue, utuh.
teaternya terang, sofa, bukan kursi. sofa panjang.
papa bersender santai ke sofa coklat pastelnya, kaya sofa rumah gue, sofa yang ga pernah papa liat dan duduki, kedua lengannya—lengan yang selalu gue kagumi—digantung kebelakang sofa, posisi aneh dan menurut penglihatan gue, gue ragu apa itu posisi bener2 nyaman.
masih di teater, gue lewat dari belakangnya. tanpa sengaja tubuh gue menyentuh kedua lengannya itu.
papa nengok kebelakang ngeliat gue yang lagi lewat susah-susah kesempitan.
habis itu gue liat matanya, irisnya yang hitam pekat. gue cium pipinya, kiri dan kanan dari belakang. pipi papa gue yang lembab, janggut—yang habis dicukur—nya menggesek muka gue.
aromanya teringat lagi, menelusup ke hati gue melalui dua lobang hidung gue yang pesek, hidung gue yang kecil, hidung gue yang sangat gue sesali.
gue perhatikan raut mukanya, dan gue ngga mendapatkan itu. gue nggak ngerti.
lalu gue melanjutkan jalan gue lagi yang ntah kemana, gue lupa.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think