Malam tanggal 25 juni adalah nama sebuah jalan dari dimana
surga ke sepuluh gue terletak.
Tidur dan alam bawah sadar adalah angkutan umum yang harus
gue naikkin sambung-bersambung sampai akhirnya gue tiba di jalan 25 juni, dan
gue injakkan kaki gue di surga ke sepuluh gue yang gue nantikan, yang jauh
sangat meaningful dari surga-surga sebelumnya, tapi kesangsiannya tidak kalah
juga dari surga-surga sebelumnya.
Ternyata surga kesepuluh gue ga lain adalah rumah gue
sendiri, ruang tamu. Sofanya gue ga yakin apa masih sofa kayu berjok hijau
seperti dulu, tempat papa duduk. Atau sofa berisi bulu angsa berkulit Oscar
berwarna coklat pastel tua, sofa baru yang gue dan mama gue beli setelah papa
pergi mendahului. Tapi yang pasti diantara dua sofa itu, disitulah gue duduk
berdampingan dengan papa gue. Papa gue mengenakan piyama biru keabu-abuannya.
Gue denger tukang bubur bermotor itu udah mengklakson-klakson
keseluruh penjuru komplek rumah gue, tapi disaat gue mau panggil, bunyi tukang
ketoprak yang mukul-mukulin piringnya membuat gue berubah pikiran.
“mbak, beliin ketoprak buat niken, ga pedes dan jangan lupa
ga pake… eh boleh sedikit, tauge.”
Habis itu adegan ini ga pernah selesai dan gue gatau
kelanjutannya apa.
Tapi yang gue inget gue kembali duduk berdampingan dengan
papa gue, dan mbak gue menyajikan berbagai macam buah2an. Ada pisang yang sudah
dikupas dan dipotong-potong kecil, ada jus alpukat yang disajikan dimangkuk,
ada kentang(oke, ini bukan buah) dipotong dadu besar-besar diatas sebuah
piring, dan yang lainnya, yang semuanya sama-sama berantakan dan ngga
mengundang selera sama sekali. Baik, inilah yang seperti biasa gue bilang
keabsurd-an dan kekacauan sebuah mimpi.
Gue dan papa gue menikmati pisang yang diiris-iris
acak-acakkan oleh mbak gue tadi.
Sambil mengunyah, gue perhatiin papa gue yang juga mengunyah
pisang irisan itu.
“apa papa akan lebih suka kalau niken taburi coklat parut
dan keju ke pisang-pisang ini? Susu kental manis juga kayanya enak” kata gue.
Kayanya papa gue setuju, terus gue berlalu kedapur mengambil
apa yang gue butuhkan.
Setelah gue menaburi pisang-pisang itu dengan topping yang
gue ambil dari dapur, papa membuka percakapan akhirnya.
“nik, kalau kamu butuh tumpangan, bilang aja ke papa. Pasti
papa anterin. Okay? Selalu bilang ke papa.”
Gue mikir macam-macam, flashback apa yang gue dapet.
Flashback kapan ini terjadi. Karena gue tau jelas papa gue udah ngga ada,
disini gue Cuma mendapat anugrah untuk dapat hidup didimensi waktu sebelum
kematian papa gue itu terjadi. Tapi gue bingung, di dimensi waktu manakah gue
kembali?
Karena seinget gue, papa ga pernah nyetir mobil lagi selama 6 bulan sebelum dia mendahului, karena dia memang ga mampu, ga bisa.
Sedangkan, jauh sebelum 6 bulan terakhir dia hidup, dia
dengan perkasanya bersedia nganter gue kemana-mana, asal ga mengganggu dia yang
sedang tidur siang. jadi seharusnya dia ngga usah ngomong kaya barusan.
Gue mengambil kesimpulan, lagi-lagi, inilah keabsurd-an dan
kekacauan sebuah mimpi.
Setelahnya yang gue lakukan adalah hal yang biasa gue
lakukan saat gue menemukan surga2 gue; menciumi papa gue; memandanginya
lekat-lekat.
Papa gue selalu muda dibayangan gue, karena memang dia mendahului
diusia yang sangat muda menurut gue, 49 tahun.
Bahkan dia belum berumur 50 tahun.
50 tahun, dimana masa puertas KEDUA lelaki selesai. dan usia dimana lelaki memasuki tingkat kematangan yang paling agung.
Nah, sekarang disaat gue melanjutkan kalimat demi kalimat
untuk menceritakan ulang peristiwa surga kesepuluh gue, pernyataan yang gue
bilang bahwa surga gue kali ini lebih meaningful, lama-lama memudar. Karena gue
sendiri ngga tau apa artinya mimpi ini, bahkan gue sendiri ga bisa
mendeskripsikan latar waktu yang jelas. Maka yang tersisa Cuma keambiguan.
Skrg aja gue gatau mau mengakhiri cerita gue gimana. Padahal,
saat kembalinya gue dari kunjungan gue ke surga gue yang ke 10, rasanya gue
excited banget.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think