Minggu, 30 Juni 2013

mereka yang menulis

Ohiya waktu itu tanpa sengaja gue merenungkan hal ini, karena ada seseorang menyuruh gue buat bikin profil dalam 300 kata, awalnya gue pikir ini angka yang cukup banyak. Gimana mungkin gue bisa ngomongin diri gue sendiri dalam 300 kata

Tapi setelah gue menulis, gue berakhir dengan 380 kata. Hahaha! Bukannya gue narsis, tapi bener deh… gue tipe orang yang menyukai kesusastraan dan gue mempercayai kekuatan kata dan gue pun percaya bahwa sikap orang itu tercermin dari caranya bertutur, juga dari pengetahuannya bertata bahasa.

Nah, kembali lagi, setelah gue submit tulisan gue, yang gue tulis dengan sangat memperhitungkan keindahan kata-katanya, ternyata orang itu mengeditnya sedemikian rupa sehingga Cuma jadi 3 paragraf dari 5. Gue agak terkejut juga, gue membacanya dengan speed-reading, karena gue udah terlalu kecewa.

Sedihnya lagi, kata-kata itu didistorsikan sehingga setiap kalimatnya hanya berisi data yang mengandung informasi penting, padahal gue menulisnya dengan gaya bahasa gue sendiri dan mengandung beberapa opini atau sudut pandang pribadi yang cukup esensial, karena dari situlah pembaca dapat menilai orang seperti apa gue ini, dengan cara tutur bahasa gue.

Nyatanya, mereka para jurnalis, selalu mendistorsi sebuah informasi supaya sifatnya benar-benar lugas dan padat. Gue tau, yang mereka inginkan adalah membuat artikelnya menjadi seinformatif mungkin , tapi sayangnya mereka kurang memperhatikan opini-opini dan sudut pandang pribadi si narasumber, detail-detail yang sangat halus, kaya yang gue bilang barusan. Informatif tidak mesti singkat, tidak mesti lugas. Kalaupun pengertian gue salah, setidaknya itulah yang gue pikirkan tentang kesusastraan.

Kesusastraan memiliki nilai estetika tinggi, tulisannya halus mendalam, dan detail-detail yang halus itu sebenarnya esensial. Inilah perbedaan kesusastraan dengan jurnalisme, walaupun mereka sama-sama menulis.

Mungkin lain kali bakal gue post tentang tulisan asli gue dengan tulisan yang sudah diedit si jurnalis ;)

penghapusan identitas wkwk lebay deng

gue ganti nama blog, dengan begitu orang bakal kehilangan jejak blog gue wkwk.
gue merasa blog gue jadi banyak tulisan pribadinya._.
jd yang mau baca/bisa baca hanya orang dengan effort2 tertentu, lol

gue tadi nyoba ngetik alamat blog lama gue yang
nikwewen blablbla.blogspot.com pas diklik di google, blognya udah gaada.
terus gue nulis yang baru yang cn-lestari.blogspot.com juga ga keluar-_-

jd nanti orang yang bisa nemu blog gue, ya followers gue.. yang gue ga kenal siapa-_-
atau mereka yang tau nama depan gue,  yang mana jarang gue tulis.
atau mereka, a total stranger, yang nemu blog gue karena keywordnya yang cocok dengan tulisan diblog gue.

kalo sampai orang yang cuma tau gue tapi ga deket-deket amat bisa nemu nih blog,
he has stalked too much!

Rabu, 26 Juni 2013

kesepuluh?

Malam tanggal 25 juni adalah nama sebuah jalan dari dimana surga ke sepuluh gue terletak.
Tidur dan alam bawah sadar adalah angkutan umum yang harus gue naikkin sambung-bersambung sampai akhirnya gue tiba di jalan 25 juni, dan gue injakkan kaki gue di surga ke sepuluh gue yang gue nantikan, yang jauh sangat meaningful dari surga-surga sebelumnya, tapi kesangsiannya tidak kalah juga dari surga-surga sebelumnya.

Ternyata surga kesepuluh gue ga lain adalah rumah gue sendiri, ruang tamu. Sofanya gue ga yakin apa masih sofa kayu berjok hijau seperti dulu, tempat papa duduk. Atau sofa berisi bulu angsa berkulit Oscar berwarna coklat pastel tua, sofa baru yang gue dan mama gue beli setelah papa pergi mendahului. Tapi yang pasti diantara dua sofa itu, disitulah gue duduk berdampingan dengan papa gue. Papa gue mengenakan piyama biru keabu-abuannya.

Gue denger tukang bubur bermotor itu udah mengklakson-klakson keseluruh penjuru komplek rumah gue, tapi disaat gue mau panggil, bunyi tukang ketoprak yang mukul-mukulin piringnya membuat gue berubah pikiran.
“mbak, beliin ketoprak buat niken, ga pedes dan jangan lupa ga pake… eh boleh sedikit, tauge.”
Habis itu adegan ini ga pernah selesai dan gue gatau kelanjutannya apa.
Tapi yang gue inget gue kembali duduk berdampingan dengan papa gue, dan mbak gue menyajikan berbagai macam buah2an. Ada pisang yang sudah dikupas dan dipotong-potong kecil, ada jus alpukat yang disajikan dimangkuk, ada kentang(oke, ini bukan buah) dipotong dadu besar-besar diatas sebuah piring, dan yang lainnya, yang semuanya sama-sama berantakan dan ngga mengundang selera sama sekali. Baik, inilah yang seperti biasa gue bilang keabsurd-an dan kekacauan sebuah mimpi.

Gue dan papa gue menikmati pisang yang diiris-iris acak-acakkan oleh mbak gue tadi.
Sambil mengunyah, gue perhatiin papa gue yang juga mengunyah pisang irisan itu.
“apa papa akan lebih suka kalau niken taburi coklat parut dan keju ke pisang-pisang ini? Susu kental manis juga kayanya enak” kata gue.
Kayanya papa gue setuju, terus gue berlalu kedapur mengambil apa yang gue butuhkan.
Setelah gue menaburi pisang-pisang itu dengan topping yang gue ambil dari dapur, papa membuka percakapan akhirnya.
“nik, kalau kamu butuh tumpangan, bilang aja ke papa. Pasti papa anterin. Okay? Selalu bilang ke papa.”
Gue mikir macam-macam, flashback apa yang gue dapet. Flashback kapan ini terjadi. Karena gue tau jelas papa gue udah ngga ada, disini gue Cuma mendapat anugrah untuk dapat hidup didimensi waktu sebelum kematian papa gue itu terjadi. Tapi gue bingung, di dimensi waktu manakah gue kembali?
Karena seinget gue, papa ga pernah nyetir mobil lagi selama 6 bulan sebelum dia mendahului, karena dia memang ga mampu, ga bisa.
Sedangkan, jauh sebelum 6 bulan terakhir dia hidup, dia dengan perkasanya bersedia nganter gue kemana-mana, asal ga mengganggu dia yang sedang tidur siang. jadi seharusnya dia ngga usah ngomong kaya barusan.
Gue mengambil kesimpulan, lagi-lagi, inilah keabsurd-an dan kekacauan sebuah mimpi.

Setelahnya yang gue lakukan adalah hal yang biasa gue lakukan saat gue menemukan surga2 gue; menciumi papa gue; memandanginya lekat-lekat.
Papa gue selalu muda dibayangan gue, karena memang dia mendahului diusia yang sangat muda menurut gue, 49 tahun.
Bahkan dia belum berumur 50 tahun.
50 tahun, dimana masa puertas KEDUA lelaki selesai. dan usia dimana lelaki memasuki tingkat kematangan yang paling agung.


Nah, sekarang disaat gue melanjutkan kalimat demi kalimat untuk menceritakan ulang peristiwa surga kesepuluh gue, pernyataan yang gue bilang bahwa surga gue kali ini lebih meaningful, lama-lama memudar. Karena gue sendiri ngga tau apa artinya mimpi ini, bahkan gue sendiri ga bisa mendeskripsikan latar waktu yang jelas. Maka yang tersisa Cuma keambiguan.

Skrg aja gue gatau mau mengakhiri cerita gue gimana. Padahal, saat kembalinya gue dari kunjungan gue ke surga gue yang ke 10, rasanya gue excited banget.

Minggu, 23 Juni 2013

peran permen karet bagi gue :O

“Apa tranquilizer lo?”
Maka setiap orang selalu punya jawaban berbeda-beda.

Ada yang tenang dengan nyium aromaterapi, ada orang yang tenang dengan menangis, ada orang yang tenang dengan mengalihkan pikirannya yang kacau ke membaca, ada orang yang tenang dengan menjadi sendirian, ada yang tenang dengan makan makanan ga karuan, ada yang tenang dengan mengkonsumsi coklat, ada yang tenang dengan melupakan masalahnya (mungkin sejenak) dengan membawanya tidur, ada yang tenang dengan mengkonsumsi zat adiktif, yang paling banyak jaman sekarang orang tenang dengan menghisap rokok. Ya tentu. Memang rokok memiliki zat tertentu untuk menenangkan pikiran, seperti peran dopamine yang terkandung dalam coklat.

Tapi kalau gue pribadi, tranquilizer gue dari masa ke masa adalah permen karet.
Ini bukan tentang zat yang terkandung didalamnya, tetapi tentang teksturnya yang bisa gue kunyah sesuka hati gue.
Gue bukan sok tengil kebarat-baratan yang kerjaannya ngunyah dimana-mana, tapi memang dari kecil gue sangat menyukai permen karet. Gue bisa ngunyah permen karet 12 jam, dan ketika gue mau makan nasi atau ngemil yang lain, gue tempelin itu permen karet yang udah hambar ke dengkul gue, dan mulai memakan yang lain, setelah selesai makan lalu gue cabut permen karet hambar itu dan gue kunyah lagi.
Gue udah jago bikin balon besar-besar tanpa effort, gue bisa ngatur besarnya, dan gue bisa ngatur kapan balon itu mau gue pecahin. Gue udah ngerti banget karakteristik dari benda kenyal yang lentur, tempat dimana enzim ptyalin gue melekat bersatu dengan benda itu, dan konyolnya gue biarkan benda itu bermain dimulut gue sampai 12 jam.

Kenapa ya bisa jadi tranquilizer? Gue juga bingung, waktu kecil jelas gue mengkonsumsi permen karet karena semua anak kecil memiliki permen favorit mereka sendiri2, dan memang dari dulu gue lebih pilih permen karet dari segala macam jenis permen. Tapi menjelang dewasa, saat emosi diri sudah bisa mulai dikendalikan kadang permen karet adalah penawar gue dari segala macam racun hati.

Saat gue kecewa, gue bisa ngambek, nangis, dan segala macam. Dengan mengkonsumsi permen karet rasanya semua amarah gue itu bisa teralihkan, gue bisa memusatkan pikiran gue ke segala otot-otot mulut untuk mengunyah dan mengunyah lagi. Dan yang pastigue gatau gimana jelasinnyasaat ekspresi muka gue udah ngga karuan karena nahan emosi-emosi negatif, guratan muka akibat otot-otot muka gue yang ngga karuan itu bisa dinetralkan dengan mengunyah permen karet. Dan pelupuk gue yang udah penuh dengan air mata, dengan permen karet dan gerakan mengunyah ditambah otak yang teralih fokus, bisa menampung dan menahan air mata gue yang nyaris meleleh dan menjadikannya lama kelamaan mengering. Itulah alasan permen karet sebagai penenang gue. Penetral gue.

Nah beda lagi disaat gue merasa muak, dengan orang-orang disekitar gue, disaat gue berhadapan dengan orang-orang bodoh, bagi gue didunia ini Cuma ada 2 tipe manusia = yang bodoh, dan yang cerdas. Orang-orang yang membosankan, artifisial, dan membuat gue muak adalah orang bodoh. Dan makin parahnya lagi mereka sok pintar. Sedangkan orang yang apa adanya dan berbicara seperlunya adalah orang cerdas. Itu menurut gue. Sisanya, penggolongan orang bodoh dan orang cerdasyang gue bilang tadisesuai dengan arti sesungguhnya. 
Dengan permen karet, gue bisa jadi tuli kalau gue terjebak dengan percakapan dengan orang bodoh. Gue memang bersifat apatis. Tapi gue bukan sok apatis loh ya. Gue memang orang IPA, eksak, logis, tapi sebenarnya gue juga mempelajari sifat manusia, sifat diri gue sendiri, diri gue doang lebih tepatnya. (Karena setelah gue pelajari, seperti yang gue bilang tadi(lagi), manusia Cuma terbagi dua;bodoh dan cerdas.) Siapa gue, kenapa gue, bagaimana gue, dan apa gue ini. 
Dan gue mengambil kesimpulan, sikap apatis gue terlalu tinggi, namun menjadi apatis ini bukan pilihan, tapi terbentuk karena proses adaptasi. 
Gue mempelajari orang2 sekitar dulunya, dan semakin gue pelajari, semakin banyak orang bodoh disekitar gue, mereka membosankan, mereka artifisial, mereka memuakkan dan mereka menjijikkan. Mungkin banyak orang yang menggolongkan gue ke golongan manusia “bodoh” versi mereka, tapi gue ngga peduli, karena gue melakukan hal yang sama.
Dan karena gue tau gue terlalu banyak membenci orang, gue menjadi apatis. Itu lebih baik.

Ohya, dan yang paling penting tentang permen karet, adalah ketika gue marah.
Lidah gue sudah terlalu lihai memainkan benda lunak lentur itu, gue bikin balon dengan besar secukupnya, yang paling penting disini bukan ukuran, melainkan ketebalan lapisan dindingnya, harus cukup tebal, kemudian gue sedot kencang2 balon itu sehingga lapisan dinding itu meletup keras-keras, gue sedot berkali-kali, balonnya berletup pula berkali-kali, sampai balonnya habis mengecil. Dan bunyinya berisik. Dari situlah gue merasa emosi gue meletus keluar bersama letupan permen karet itu. Dan disitulah emosi gue semakin tipis seiring mengempisnya balon tadi. Apabila itu masih kurang, gue terus melakukan hal yang sama sampai amarah gue benar-benar hilang.

Atau kadang gue makan permen karet secara Cuma-Cuma aja. Memiliki sesuatu untuk dikunyah adalah hal yang menyenangkan bagi gue. Sekarang setelah dewasa, rasa permen karet sama sekali ngga gue perhitungkan. Tapi keberadaan benda lunak yang lentur itulah yang sangat gue perhitungkan. Yang memberi aktifitas bagi rongga mulut gue, yang mengalihkan otak gue dari emosi-emosi yang tidak terlampiaskan. Penawar gue. penetral gue.


Jadi, apa tranquilizer lo?

ikatan antara anak mamalia dengan induknya.

jadi waktu itu ceritanya, gue marah besar sama ibu gue. Ibu gue yang gue anggap belahan jiwa gue, yang sesungguhnya.
Gue nyampah mungkin dirumah, karena gue melakukan apapun suka-suka gue sendiri. Tapi ya begitulah gue mandang hidup. Untuk apa lo menjadi produktif disaat lo butuh istirahat? Seharian itu gue dikamar, dengan sandang sangat minimal membalut tubuh gue. Gue tiduran seharian dikamar main laptop, dan solat saat waktunya, dan keluar kamar hanya untuk makan.

Maghribnya, ibu gue masuk kamar gue dan jengkel banget kayanya sama gue.
Dia mukul gue tepat ditulang kering gue.
Dan itu tidak bisa gue toleransi.
“ma, ini beda” kata gue setengah nahan nangis.
“ya memang, biar kamu tahu. Biar kamu mengerti.” Kata beliau dengan mata amat nanar.
Dan gue semakin jengkel, dan sakit hati. Dia pergi dari kamar gue. Dan gue gabisa berenti menangis, meraung.

Ini sepele, tapi sebenarnya ini akumulasi dari rasa muak gue sama mama gue yang baru jadi janda, masa transisinya.

Papa gue hilang, ketiga kaka gue hilang-musiman-mereka pd kuliah diluar kota, teman2 gue menghilang perlahan karena kelas baru gue yang sangat gue sesali, dan yang tersisa hanya ibu gue. Ibu gue yang gue anggap belahan jiwa gue. Ibu gue yang menjanda. Ibu gue yang dalam masa transisi. Dan gue benci ibu gue dengan masa transisinya. Dia gila, gue pikir. Dan gue mengabaikan dia, gue lebih suka sendirian.

Dan itulah puncaknya, dia memukul gue.
Disitu gue mulai berpikir tentang kematiannya, dan bagaimana kalau yang mati dia, bukan papa.
Gue berjanji sama diri gue, gue ga akan melakukan kontak apapun dengan dia kecuali untuk minta duit HAHA.

Tapi, my friend, dari jaman ke jaman, itu adalah janji yang PALING mudah terlanggar. Karena pada akhirnya, secara naluri dan insting mamalia, kita ngga akan bisa hidup jauh-jauh dari induk kita.

Okay, jadi dari maghrib sampai pagi lagi gue ngga keluar kamar, dan gue tahan rasa kelaparan gue dengan membawanya tidur.
Paginya, gue bangun jam 11 siang. Gue lgsg mandi dan berangkat kerumah temen gue, kabur sementara ceritanya. Gue keluar kamar sambil baca bismillah, dan nyelonong ke pintu utama untuk keluar dari rumah. Gue liat (tanpa kontak mata) ibu gue ngeliat gue pergi, dan dia ga melakukan apa2. Tapi dia tetap asik ngobrol sama ketiga kakak gue yang lagi libur dirumah.
Gue keluar rumah, dan gue menuju ke tempat makan untuk sarapan, gue udah lama bgt ga makan. Abis itu ke supermarket beli cemilan, dan berangkatlah gue naik angkot kerumah sahabat gue dari SD, yang paling mengerti gue, rara. Dijalan gue kabarin apa yang terjadi dan dia seperti biasa menerima gue dirumahnya, ngasih makan gue, ngasih gue tempat bernaung sementara, dan yang pasti menghibur dan menemani gue. Gue certain tentang penyesalan gue atas banyak hal, mama gue yang jadi gila, papa gue yang sangat gue rindukan, dan kelabilan gue menghadapi hal-hal semacam ini.

Sampai sana gue senang-senang sama rara, seperti biasa, rasanya kaya gaada apa-apa. Gue cek hp gue berkali2. Bbm, dari temen2.
“mama lo ga nyariin ken?”
“kaga” kata gue sok sumringah, nahan shock juga sebenernya.
Biasanya ibu gue nyariin gue terus loh, main kemana sama siapa plg jam brp, selalu diinterogasi.
Menjelang malem, akhirnya mas adit nelfon, dia bilang dia lagi dirumah temen sama mas danto dan mas fandi, dan intinya dia nawarin pulang bareng.
Setelah ketiga kaka gue selesai hangout sama temennya datenglah mereka menjemput gue.
Dimobil gue nangis lagi gara-gara cerita tentang kelakuan ibu gue yang udah gabisa gue tahan lagi, gue kesel bgt sama dia waktu itu. Dan kakak-kakak gue yang laki-laki, tegar, dewasa, dan lebih berpengalaman nasehatin gue ini itu, mata gue terbuka dikit.
“dia daritadi ribut bgt ken, nyuruh kita bertiga nyariin lo terus dari tadi lo pergi” kata mas fandi.
That’s it, my friend. Seorang ibu, bagaimanapun kita saling acuh, punya caranya sendiri untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.
Sekarang mata gue udah terbuka lebar. Bahwa seharusnya gue lah yang mengerti ibu gue.

Habis itu ketiga kakak laki2 gue yang dodol, ngajak gue makan diluar, dan menantang gue untuk beliin mama makanan kesukaannya sambil minta maaf. Dan mereka bertiga udh dengan antusias bikin scenario lengkap yang harus gue ikutin, awalnya gue menolak mentah-mentah, tapi mereka mau ngasih gue 10ribu rupiah kalo gue mau, dan dengan murahannya gue akhirnya mengikuti aturan main mereka.
Sampai dirumah, gue bener2 nervous buat ngasih mama roti bakar yang udah gue beliin, dan meminta maaf. Dan setelah dibujuk berkali-kali(karena gue membatalkan perjanjian kami) akhirnya gue lakuin juga tuh kcenario

“ma, nih niken beli buat mama” kata gue nyodorin tuh roti.
Dan kakak gue dibelakang diam2 siap dengan segala alat perekamnya.
“mama kenyang dek, simpen aja. Thanks banget ya” respon emak yang sangat sangat ga gue duga.
Trs gue kicep, dan ngibrit. Kakak gue Cuma ngakak2 aja ntah apa yg lucu.
Tapi itu respon yg bener2 diluar dugaan, gue pikir ibu gue bakal ngacangin gue.
Ternyata ya… begitu. Dan dia mengucapkan “terima kasih”
Esok paginya, semua normal kembali. Dan dia kembali menjadi belahan jiwa gue.


Seperti yang gue bilang barusan, janji2 untuk tetap marah sama ibu kita adalah janji paling sepik sedunia.

mana yang lebih baik tentang perpisahan?

Kehilangan orang tua tentu hal yang buruk bagi seorang anak. Kehilangan karena perceraian orang tuanya, atau kehilangan karena kematian salah satu orang tuanya.
Gue pikir perceraian adalah hal terburuk bagi seorang anak. Banyak beban yang akan ditanggung seorang anak kalau orang tuanya memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya secara menyedihkan, bercerai. Anak menanggung rasa kehilangan atas pindahnya salah satu orang tuanya ke lingkungan lain, rasa kebencian atas orang tuanya yang gagal mempertahankan rumah tangga, rasa rendah diri atas perbedaan yang terjadi pada dirinya karena keluarga yang tidak utuh, dan rasa dendam atas salah satu orang tuanya yang ia anggap penyebab dari peristiwa perceraian itu.

Tapi, benarkah?

Setelah gue kehilangan papa gue, atas kematian, sekarang gue pikir perceraian itu lebih baik.
Gue tidak benar-benar kehilangan papa gue, beliau hanya berpindah. Berpindah ke lingkungan baru, ke keluarga baru. Gue akan punya banyak waktu untuk menemui beliau. Tapi kalau papa pergi karena kematian? Dimana gue bisa mencari sosok papa gue kalau gue mau menemui dia? untuk mencium atau minta dicium, untuk memeluk atau minta dipeluk, untuk berbicara dan bercerita, atau untuk sekadar melihat papa gue. dimana nanti sosok seorang ayah yang seharusnya menjadi pria yang paling terharu saat malam pesta pernikahan gue? dan gue juga memikirkan tentang anak gue nanti yang gabisa merasakan memiliki kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya.

Rasa sakit merindukan orang yang sudah benar-benar hilang itu sangat tidak bisa dipungkiri, lho. Sakitnya luar biasa.
Gue selalu membayangkan dan menimbang-nimbang, kalau Allah menawarkan gue untuk mengembalikan papa gue ke dunia, dengan syarat papa bukan lagi suami mama, apa gue mau?
Tentu gue mau.

Mungkin awalnya gue akan membenci papa gue, karena mengkhianati mama(misalkan mereka bercerai karena ego mereka yang sama-sama tinggi, atau karena papa yang selingkuh) maka semua itu nggak akan jadi masalah, karena yang gue inginkan hanya dapat memiliki seorang ayah lagi.
Dan gue rasa, memaafkan pengkhiatan dan kegagalan orang tua gue jauh lebih mudah daripada menerima hilangnya papa gue untuk selamanya.

Gue memang bisa dibilang nggak terlalu dekat dengan papa gue, karena kita hanya mengenal satu sama lain selama kurang lebih 17 tahun, bukan, gue pun ngga tahu sedekat apa kita sebenarnya.
Selama bertahun-tahun kita terkurung dalam mobil selama 45 menit sehari, dan yang terjadi hanya kelengangan. Pada malam harinya ga banyak yang kita bicarakan sampai akhirnya kita pergi ke kamar masing-masing. Tapi papa gue adalah seorang bapak yang sangat memanjakan anaknya. Papa akan beri apapun yang gue minta selagi dia mampu, moril maupun materil.

Saat gue lihat diakhir hidupnya yang ngga berdaya, setiap hari gue selalu nyiumin dia. nanti dia menangis. Dan gue pun pasti ikut menangis. Tapi dia ngga pernah berkata apa-apa.
Sejak itu gue sering memandangi dia, dan ntah kenapa gue ingin menyayangi dia sebagai seorang anak, bukan sebagai seorang ayah. Gue ingin menjadi ibunya dan menyayangi papa gue selayaknya seorang ibu memperhatikan anaknya tumbuh setiap hari. Gue ingin menjadi ibu dari papa, dan mendidiknya dengan baik, menjadikan dia pelipur lara disaat hidup gue lagi berat, seperti yang setiap seorang ibu lakukan.

Akhirnya pada saat papa gue pergi mendahului, gue mengerti, bahwa tanpa gue sadari 45 menit sehari kita berdua telah menumbuhkan rasa cinta yang terlalu mendalam dan mengakar.  Dan dari 45 menit sehari kita berdualah yang membuat gue mencintai kelengangan lebih dari memiliki percakapan. Semakin lengang semakin baik.
Lo tau, disaat sesuatu yang sangat kecilpundan betapa kita tidak menyadari keberadaannyahilang, maka sebuah sistem lo akan timpang, rusak, dan butuh waktu untuk menjadikan sistem itu bekerja normal lagi. Dan bagi gue, seluruh waktu sampai detik ini pun, ngga pernah cukup untuk menjadikan sistem gue bekerja normal lagi. Karena dia hilang selamanya.
Tapi saat yang terjadi adalah perpisahan akibat perceraian, lo akan selalu memiliki bagian lo yang hilang berada disekitar lo. Yang lo perlukan hanya sedikit usaha untuk memasangnya lagi. Maka sistem lo pun akan bekerja normal lagi.

Apakah pikiran gue terlalu dangkal?

Mungkin.

Sabtu, 08 Juni 2013

kesembilan

jadi semalam latarnya seharusnya disebuah teater, ada yang bilang teater di daerah london ada yang bilang teater didaerah saudi arabia, itulah kekacauan dan keacakan sebuah mimpi.
tapi yang jelas, gue nonton ber6, ada 3 kakak-kakak gue, dan mama papa gue, utuh.
teaternya terang, sofa, bukan kursi. sofa panjang.
papa bersender santai ke sofa coklat pastelnya, kaya sofa rumah gue, sofa yang ga pernah papa liat dan duduki, kedua lengannya—lengan yang selalu gue kagumidigantung kebelakang sofa, posisi aneh dan menurut penglihatan gue, gue ragu apa itu posisi bener2 nyaman.

masih di teater, gue lewat dari belakangnya. tanpa sengaja tubuh gue menyentuh kedua lengannya itu.
papa nengok kebelakang ngeliat gue yang lagi lewat susah-susah kesempitan.
habis itu gue liat matanya, irisnya yang hitam pekat. gue cium pipinya, kiri dan kanan dari belakang. pipi papa gue yang lembab, janggutyang habis dicukurnya menggesek muka gue.
aromanya teringat lagi, menelusup ke hati gue melalui dua lobang hidung gue yang pesek, hidung gue yang kecil, hidung gue yang sangat gue sesali.

gue perhatikan raut mukanya, dan gue ngga mendapatkan itu. gue nggak ngerti.

lalu gue melanjutkan jalan gue lagi yang ntah kemana, gue lupa.