Dia datang kerumah gue waktu itu, atas dasar suatu
kepentingan penting tentunya.
Kita habiskan 5 jam lebih dirumah gue.
Dari situ gue mulai mengenal dia, yang sebelumnya ga terlalu
gue hiraukan.
Ada rasa familiar setiap kali gue bicara sama dia, ada sinar
mata yang gue rasa pernah gue kenal baik sebelumnya setiap kali gue melihat
mata dia.
Dia memanggil gue “Nik” dimana hampir seluruh orang manggil
gue “Ken”
Kecuali,
Papa gue.
Saat barang-barang yang temen gue mau pinjam dan muncul
perasaan enggan gue untuk minjemin, Cuma dia yang bisa memperhatikan gue
sejenak dan bertanya, “ini memang punya siapa nik?”
Gue jawab,
“ini punya papa gue.”
Gue ga pernah biarin temen gue nyentuh barang papa gue
sembarangan.
Saat ada kotak besar terbungkus kain ungu, dengan hati-hati
gue nolak tawaran temen gue buat mindahin barang itu. Dan lagi-lagi Cuma dia
yang bisa memperhatikan sejenak dan bertanya, “itu apa nik?”
Gue jawab,
“ini barang-barang dimeja kantor papa gue dulu”
Sejak gue sadar ada
yang istimewa, atau mungkin yang aneh, dari dia, gue jadi takut ngeliat dia.
Gue jadi males ngeliat mata dia, atau ngejawab pertanyaan
dia sehari-hari. dan perasaan canggung muncul besar-besaran ketika gue
diharuskan membalas sapaan dia pagi-pagi.
Dan ntah kenapa rasa males ini lama-lama berubah jadi rasa
jijik.
Ada perasaan jijik kalau tiba-tiba sosok dia muncul
dipikiran gue, dan dengan buru-buru gue hilangin dia dari pikiran gue.
Sesuatu yang sangat salah terjadi diantara kita berdua, atau
mungkin hanya di gue.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think