Malam itu tanggal 8, saat gue terbangun nanti seharusnya gue
berada disuatu pagi bertanggalkan 9, yaitu tepatnya 100 hari kepergian papa
gue.
Gue gayakin surga ke 8 gue ini terjadi pada suatu malam
bertanggal 8, atau pada suatu dini hari bertanggal 9.
Yang jelas semua itu dimulai dari sebuah latar yang sangat
familiar, superindo.
Saat dia menoleh kebelakang, matanya menangkap sosok seorang
pria berbalutkan jaket warna abu kecoklatan. berwajah agak lonjong, sekitar
pipi hingga dagunya berbintik-bintik bekas cukuran beberapa minggu, dan kumis
yang dibiarkan tumbuh agak lebat. Kening pria itu tinggi sampai hampir mencapai
ubun-ubunnya. Hidungnya mancung namun lebar dibawah, khas pria tanah jawa,
bibirnya sederhana dengan ketebalan yang nyaris seperti bibir perempuan ini,
namun tanpa lekuk-lekuk sensual milik wanita.
Dia temukan sedikit banyak garis matanya pada pria itu,
bedanya irisnya coklat tua sedangkan milik pria ini hitam pekat.
Sosok seorang bapak-bapak bidang gagah perwira, persis
seperti ayahnya saat masih muda dulu, saat perempuan ini masih duduk dibangku
sekolah dasar.
“pak, pak!” panggil perempuan yang mengamati pria
dibelakangnya barusan tadi.
“pak! Bapak!” panggilnya lagi setengah berteriak.
Tetapi pria itu tergesa mempercepat langkahnya, sehingga
kini mengungguli perempuan itu.
Dengan setengah berlari perempuan itu dengan cemas namun
sigap mengejar pria itu, sambil terus memanggilnya.
Saat tubuh mereka hampir berhimpit, kini langkahnya
distabilkannya, menyamai tempo pria itu agar tetap sejajar. Namun pria itu
tetap bergesa.
“pak, bapak mirip sekali dengan ayah saya!” perempuan itu
lalu menunggu reaksi.
Pria itu menoleh wajahnya tegas-tegas kepada perempuan itu,
sebentar, cepat, lalu membuang muka lagi.
“saya bisa tunjukin fotonya.” Perempuan itu tetap berusaha,
merogoh sakunya mencari telepon genggamnya. Tetap menyelaraskan langkahnya.
“ini!”
Pria itu kini memperlambatnya langkahnya.
Mengambil telepon genggam perempuan itu dan mengamatinya
sebentar.
Sesungguhnya perempuan itu akan melakukan apapun agar bisa
berkenalan dan mengetahui tentang pria itu, pria ini terlalu jelas mengingatkan
ia pada ayahnya. Maka kini ia hendak
mencari sosok ayah yang baru.
Oh! Bukan ayah yang baru. pria ini jelas ayahnya. Tidak ada
perbedaan sedikipun, hanya saja lebih muda dari seharusnya.
Oh. Tidak, lelaki ini jelas bukan ayahnya. Ayahnya sudah
mendahului, takkan ada lagi kembali sosoknya ke dunia.
Tapi itu tidak penting, dia hanya ingin dapat melihat dan
menyentuh ayahnya lagi, melalui pria asing yang serupa dengan ayahnya itu, maka
mimpi serta angannya akan jadi nyata.
“mirip, bukan?”
Mereka saling tatap.
“bapak ini siapa? Sebetul-betulnya.”
Pria itu menghela nafas.
“saya masih ada hubungan darah dengan oma mu itu.” Jawabnya
akhirnya.
Mereka saling tatap.
Mereka menghela nafas.
Lengang.
Dan gue pun terbangun.
Merenungi kejadian dimimpi gue.
Mungkin kah suatu saat gue dipertemukan orang yang persis
serupa papa gue?
Seperti doppelganger-nya mungkin?
Tuhan, tolong kirimkan satu.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think