hari jumat itu diawali dgn hal yang biasa terjadi. bangun, mandi, sembahyang, pamit, berangkat sekolah.
sampai akhirnya sebuah pesan dari telfon genggamnya membuat air matanya menetes perdana dihari itu. dia tidak sendirian didalam kendaraan itu, melainkan ber 3, ditambah seorang supir. dia melihat keluar jendela, untuk menutupi wajahnya yg sedang berair itu.
seturunnya dia dari kendaraan itu, dia melangkah ke kendaraan yang daritadi ada dibelakangnya, membuka pintunya, lalu masuk kedalam.
siapa pengendara kendaraan itu?
oh, orang istimewanya dulu. orang yang lama menjadi istimewa dihatinya.
didalamnya, kini hanya mereka berdua. dingin. dia tidak tahu apa yg harus dia lakukan.
ujung2 bibirnya mengembang, otot2 pipinya berkontraksi, kelenjar air matanya terangsang, refleks otak menyuruh otot tangannya untuk bergerak, menutup mukanya dengan jilbab. dia memejamkan matanya dan deraslah rindu yang mengalir dari sudut-sudut matanya.
dia berusaha tidak bersuara, org istimewanya pun kikuk dan segera merangkulnya. mencoba membujuknya, tp dia hanya bisa tetap menangis.
betapa ia tidak bisa bertingkah, betapa hatinya terhujam, saat rindu terbalas tetapi diri tak mau berkehendak. terjadi perang antara perasaan dan logika dihatinya.
ia tidak bisa kembali, namun tak bisa pula melanjutkan.
ia tidak bisa mengutarakan apa yang harus diutarakan.
bahkan ia tidak tahu apa yg ia rasakan, mengapa dia tetap sesenggukkan dan air matanya tak mau berhenti mengalir.
orang istimewa itu mencium keningnya sekilas, ntah menghibur atau naluri. ntah rindu atau gemas.
kini ia berusaha menguasai dirinya lagi, melerai perkelahian dihatinya tadi, mengatur nafasnya yang memburu, menyeka semua lembab dipipi dan hidungnya. dia membuka percakapan dengan org istimewanya itu, orang istimewanya dulu. tidak banyak yang ia katakan, sesungguhnya ia harap org istimewanya mengerti arti tangisnya. bahwa ia ingin mendengar penjelasan, permintaan maaf, atau sekadar pengakuan.
bahkan pengakuan apapun, pengakuan akan kerinduan, pengakuan akan penyesalan, atau pengakuan bahwa orang istimewanya telah menemukan sepasang mata seorang hawa lain yang mampu menghangatkan batinnya dan mengikat serta mengendalikannya menyeluruh, apapun, segetir apapun pengakuannya, ia mau menerima...
tapi nyatanya yang terjadi hanya kelengangan dan sedikit percakapan yg kentara dibuat-buat.
setelah pamit, dia segera turun dari kendaraan itu dengan seberkas senyum untuk org istimewanya,
ya, orang istimewanya dulu.
sepanjang hari setelah kejadian itu ia menenggelamkan dirinya pd sebuah novel sastra jaman dulu, novel berjudul ronggeng dukuh paruk. bukan karena ingin mengalihkan pikirannya yg terjebak pd kejadian tadi, dia hanya menghindari kontak verbal dengan org2 sekitarnya hari itu. lagipula, novelnya menarik.
beberapa jam berlalu, akhirnya dia keluar dari ruangan yang gaduh itu dan dengan tergesa ia menuruni anak tangga, menemui temannya.
tanpa tahu bagaimana harus memulainya, dia keluarkan sepotong2 kalimat yg tidak padu dan akhirnya sebelum sempat menyelesaikannya dengan benar, tangisannya pecah lagi.
temannya segera mengerti dan menuntunnya duduk.
tangisnya makin sedu dan mengaduh, dia segera bersandar pada dinding dan seolah2 menciumnya, guna menutupi keadaannya dari org2 lain yg lalu lalang.
kali ini tangisannya berisik.
dia tahu bbrp org menatapnya lekat sambil berjalan berlalu, meskipun ia sedang membenamkan wajahnya kedinding yg dingin.
dia lebih pandai menguasai dirinya kali ini, sehingga dengan lebih mudah ia mampu meredam tangisnya saat merasa dirinya sudah terlalu menjadi perhatian. namun tanpa kuasanya dia tersedu dan terisak lagi ketika bayang2 kejadian didalam kendaraan td terekam ulang dipikirannya saat ia hendak melanjutkan cerita ke temannya. temannya mnggenggam erat tangannya, kadang memeluknya saat ia memekik tak kuat menahan tangisnya yg pecah dan mereda berkali-kali.
hari itu dia hanya ingin pulang, pulang kerumahnya.
dia mengabaikan tugas yg diembannya atas organisasi yg ia pimpin, ia menunda semua tugas hari ini dan memberitahu anak2 buahnya bahwa hari ini semua bebas, tak ada pertemuan, tak ada pekerjaan yg hrs dituntaskan. ia hanya ingin pulang.
dijalan pulang ia membuka kembali novel sastra ronggeng dukuh paruknya.
kini ia mengkhayati cerita novelnya.
ia mengkhayati luka srintil yang menginginkan rumah tangga dan seorang bayi,
yg teteknya dengan ajaib memproduksi susu dengan rahim yg kosong,
yg menginginkan pengakuan org2 bahwa dia adalah perempuan utuh,
yg mulai bertanya kenapa ia menjadi seorang ronggeng,
dan ia mengkhayati bagaimana si srintil yg menginginkan rasus.
jakarta panas siang itu, memang selalu panas.
asap debu kendaraan2 serta reak2 kering bersatu meniup pipinya, mencium bibirnya yang makin kering karenanya. dia sempat mengeluh. kini matanya perih.
ntah karena iritasi, ntah krn membaca sepanjang perjalanan didalam kendaraan, atau ntah karena reaksi matanya dengan air mata yg berkali2 mengucur seharian ini.
ntahlah,
yg pasti matanya perih.
mukanya berbedak debu.
bibirnya kering.
hatinya anyir.
sebentar lagi ia sampai dirumah.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think