Minggu, 16 September 2012

Bukan Pasar Malam

gue baca novelnya Pramoedya Ananta Toer
walaupun ga trlalu menarik bagi gue, tp rasanya lumayan berkesan.
ttg nasionalisme, si tokoh aku yg mutusin buat pulang ke Blora krn ayahnya sang guru yang penuh bakti dan seorang nasionalis tergeletak ga berdaya karena TBC.
banyak pelajaran moral disitu, dari kejadian2 ketika dia tinggal di Blora.
tentang keadaan negara pascakemerdekaan, dan petinggi-petingginya yang serakah, zaman2 revolusi, kekurangan diri sendiri, sampai--lagi lagi--nasionalisme.
tp uniknya disini Pramoedya jg nyinggung mslh kehidupan manusia dan hubungan vertikal dengan Tuhan. menyinggung mslh kenapa kita hrs hidup, dan jadi apa kita di dunia.

 "kenapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam" -Orang Tionghoa, Bukan Pasar Malam.


***

     "Aku tak mau jadi ulama," sambung ayah dengan suara tegas. "aku mau jadi nasionalis." Diam lagi. "Karena itu aku jadi guru." Diam lagi. "Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman--," tertahan sebentar, "patriotisme. Dengar?"
     "Dengar, Bapak."
     "Mengerti?"
     "Mengerti, Bapak"
     "Karena itu aku jadi nasionalis." "Berat, Anakku," diam lagi. "Sungguh berat jadi seorang nasionalis"
     Nampak olehku mata ayah bersinar sedikit. Dan aku menyahut:
     "Ya, Bapak."
     "Karena itu aku memilih jadi guru."
     "Ya, Bapak."
     "Jadi lembaga bangsa."
     Hariku mulai tersayat oleh kata-katanya yang akhir itu.
    "Tapi aku rela jadi nasionalis. Aku rela jadi kurban semua ini."




percakapan favorit gue antara si tokoh aku, dan ayahnya

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think