Jangan Dipisahkan Lagi
21 januari 2012
Besok adalah
hari ulang tahunku, entah apa yang akan terjadi besok. Aku dengar ayah sudah
membelikan aku hadiah, dia simpan dikamarnya, aku harap ia akan memberikan aku
kacamata baru, dengan bingkai yang lebih baik tentunya, aku rasa aku sangat
mebutuhkannya sekarang. Sedangkan teman-temanku, aku tidak terlalu peduli,
mungkin mereka akan patungan untuk membeli 1 lusin donat, hmm tapi aku rasa
lebih baik 2 lusin. Sedang ibuku.. ntahlah, aku akan mengajaknya berjalan-jalan
di taman kota, dia harus mentraktirku hot dog! Aku rasa itu lebih dari cukup,
kali ini aku yang akan meminta hadiahku kepada ibuku.
***
“mereka
ternyata bukan membeli donat, kali ini mereka membelikan aku bolu, bu!” “Lea,
ibu rasa kamu pantas mendapatkan lebih dari sekedar hotdog ini, manis”, Lea
tidak menjawab. “ibu tahu? Bagiku ini jelas lebih dari cukup untuk bisa
berjalan-jalan bersama ibu dihari ulang tahunku ini, bu” kata Lea akhirnya
sambil menggigit hotdog tanpa sayurnya itu. “ayolah, lihat temanmu, bahkan
mereka membelikanmu kue ulang tahun le! Hahaha” jawab ibunya yang juga sambil
menggigit hotdognya. “itu cuma bolu bu! Lagipula itu tidak penting.. oh ya bu,
aku dapat 100 untuk kuis biologi minggu ini, coba pegang sebentar” Lea langsung
membuka tasnya dan mengambil secarik kertas lembar jawaban kuis biologinya,
sampai akhirnya dia mencium bau yang sangat menusuk paru-parunya, bau yang
cukup kuat untuk mencekik lehernya sampai ia tidak bisa berteriak, semakin lama
pandangannya semakin menjadi buram, menghitam, semua berputar-putar. Entah apa,
badannya serasa lumpuh, sekelebat memori masa lalu secara acak berjalan
dipikirannya. tapi 1 hal yang dia ingat jelas, sapu tangan itu berwarna merah
marun. Samar-samar ia lihat ibunya berdiri tidak jauh darinya, ntah berbicara
apa, sampai akhirnya semuanya menjadi hitam.
“Ibu.. Aku tahu leher dan keningku
panas, tapi aku merasa kedinginan bu” “itu namanya kamu demam sayang, ayo
diminum obatnya, habis itu Lea tidur ya...”
“Dasar anak nakal! Masuk kamar sana!”
“Aku sudah bilang kan, tidak akan
kumakan, dan lihat, aku singkirkan dan..akhirnya terbuang bu!” “masa dari
sekian banyak jenis sayur, tidak ada satu pun yang Lea suka?”
“Eleanor artinya cahaya, sayang, kamu
adalah cahaya ibu saat ibu sedang pusing begini..”
Lea
terbangun dan mendapati dirinya tergeletak di suatu ruangan asing, masih mengenakan
seragam putih abu-abunya. Sendirian. Setelah mengumpulkan nyawanya, ia mulai
meneliti ruangan ini. Ruangan ini pengap, hanya ada 1 buah ventilasi kecil di
langit-langit ruangan, ruangan itu cukup kotor, di beberapa sudut ruangan,
lantai yang terbuat dari kayu itu bahkan sudah lapuk dan melunak, membuat Lea
enggan bergerak. Cat ruangan yang berwarna coklat sudah tidak dapat dibedakan
lagi antara warna asli cat ruangan tersebut atau noda-noda kotor yang menempel
di dinding. Tidak ada apa-apa diruangan itu, hanya ada 1 cermin bergantung di
dinding, dan 1 buah meja. Bahkan tidak ada jam, Lea bertanya-tanya jam berapa
sekarang, dan tanggal berapa sekarang.
Lea
dapati sesuatu di saku kemejanya, telefon genggam. Telfon genggam tanpa sim
card dengan baterai yang minim. Terlihat disitu bahwa hari ini adalah tanggal
24 januari 2012, pukul 19:49. Lea tahu ada sesuatu yang sangat salah sedang
terjadi sekarang. Jelas dia diculik, dia memutar otaknya sampai terasa seperti
ada sesuatu yang mengebor kepala Lea, ngilu. Lea sedikit menggelinjang saat
rasa ngilu itu datang, tapi dia masih berpikir keras mengingat kejadian
terakhir sebelum ia sampai disini dan tidak sadarkan diri. Lea terbelalak
sampai akhirnya ia mampu menemukan jawabannya, bahwa ternyata dia telah tidak
sadarkan diri selama hampir 2 hari! Lea mulai histeris dan menghimpit-himpitkan
badannya yang jangkung ke dinding di sudut ruangan, Lea menatap langit-langit
ruangan ini dengan mata menerawang, “terima kasih tuhan, Kau lindungi ibuku.
Jangan bawa dia kesini, Tuhan..” Lea membuka percakapannya dengan Tuhan.
“udah
gue bilang jangan ditahan sampe 2 hari gitu! Baca berita ga sih lo? Cerita kita
ini udh sampe kecium media masa, gue taro tuh koran dikamar sana, baca lo
nanti, makan tuh berita!” terdengar suara lelaki dari luar kamar, berdialek
seperti preman. Lea menghentikan semua tangisannya, menajamkan pendengarannya,
dan meminimalisir semua gerakan yang bisa menimbulkan suara. “asu lah!”
terdengar suara lelaki yang berbeda mengumpat, diikuti dengan suara hantaman. Lea
segera menyapu ruangan dengan matanya, berharap sesuatu berisi petunjuk dapat
ditemukan. Lea melihat diatas meja itu terdapat 1 lembar koran yang sudah basah
di beberapa bagian, segera ia pelan-pelan merangkak dan meraih koran tersebut.
“seorang remaja kelas 1 SMA
diduga diculik saat sedang berjalan-jalan di taman kota. Saksi mata disekitar
taman merasa tidak ada hal yang mencurigakan saat melihat Lea, si korban
penculikan, berjalan sambil memakan hot dog. ‘ya saya dan teman saya ngeliat
dia lagi dengerin musik kayanya, abis, dia make earphone di kupingnya. Disekitar taman juga ga ada orang
mencurigakan, cuma kita berdua(reni dan temannya), sama si cewek itu’ ujar Reni
seorang saksi mata. Polisi menduga, Lea sedang asyik mendengarkan lagu sehingga
tidak memperhatikan bahwa ada orang asing mendekat dan menyekapnya dari
belakang. Ayah Lea, Henry, mulai cemas saat anaknya tidak pulang—“ JGREG. Lea menoleh, lelaki yang Lea taksir
berumur 30an datang dengan muka geram sambil membawa makanan. “sini!” lelaki
itu merebut koran yang sedang Lea genggam. “nih, makan kalo laper” kata lelaki
itu, beranjak meninggalkan kamar.
“Oh,
ternyata itu yang membuat mereka bertengkar.” Gumam Lea. Lea teringat makanan
yang dibawakan oleh sang penculiknya itu, ia memang lapar, ia cukup antusias
membuka bungkus makanan itu. Nasi padang. Nasi padang yang bau. Sepertinya
sudah basi. Tanpa pikir panjang Lea segera meletakkan nasi padangnya dilantai
sambil memandanginya, tanpa menyentuhnya lagi. Bagaimana ia bisa makan kalau yang
dikasih adalah makanan basi? lebih baik ia kelaparan. Lea merapatkan lagi
badannya ke dinding, melingkarkan lengannya di sekitar dengkulnya. Ia sangat
lapar. “bu, kalau sekarang disuruh memilih nasi padang itu atau 1 mangkuk besar
berisi sayur-mayur, maka aku akan makan sayur-mayur itu, bu” gumam Lea. Ia
meraba perutnya yang keroncongan, lalu menyingkap kemejanya kedadanya, ia
meraba lagi perutnya, ia sentuh kulit perutnya yang putih, yang penuh bekas
luka, di bawah sebelah kiri, ada bekas luka operasi usus buntu, di sebelah
kanan, masih dibawah, ada luka cukup lebar bekas tikaman pisau yang sebenarnya
tidak terlalu dalam. diatasnya, persis dibawah dada kanannya, ada 3 garis bekas
luka memanjang, bekas luka cakaran. Lea tersenyum lirih memandangi bekas-bekas
luka diperutnya yang menyimpan banyak cerita.
“Lea suka gambar yang terakhir?
Bagaimana kalau kita buat 1 lagi dibawah sini?”
***
Seorang
laki-laki yang datang beberapa waktu lalu mengantarkan nasi padang basi,
kembali memasuki ruangan dengan muka lebih tenang dari sebelumnya. “ga
dimakan?” Lea diam saja. Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak ingin masuk ke
mulut Lea, tangan lelaki itu, Lea dipaksa membuka mulut, awalnya Lea hanya
menutup rapat mulutnya, kelamaan Lea mulai menggeleng-geleng, lanjutnya lagi Lea
mulai bersuara, menolak, bahkan berteriak. Lelaki lainnya masuk ke kamar
setelah mendengar teriakan Lea, dengan sekejap lelaki itu memegang erat tangan Lea,
menduduki kaki Lea, dan tangan yang satunya lagi menekan-nekan pipi Lea agar
membuka mulutnya, rontaan Lea makin lama makin mereda, Lea lebih memilih
membuka mulutnya dan memaksakan makanan itu tertelan lalu masuk ke perutnya.
Setelah makanan habis, 2 lelaki itu tanpa basa basi meninggalkan Lea dan keluar
dari kamar itu. Lea meraih telefon
genggamnya yang berada tidak jauh darinya, dan mengantongkannya disaku
kemejanya, kemudian ia meringkuk, menyenderkan kepalanya kedinding, dan ia
kembali tertidur.
“Lea suka dipeluk
begini? Bukannya panas? Hahaha”
“Dulu kamu gendut sekali loh Le, ibu
sampai takut kamu tumbuh jadi remaja gendut nantinya!”
“Lea manis yang paling ibu sayangi,
temani ibu ke pasar ya?”
“Ibu tidak peduli kalau kamu jadi anak
bodoh, tapi jangan jadi anak nakal!”
“Bu, memang benar kalau kita memimpikan
seseorang, tandanya jiwa kita sedang bertemu jiwa orang itu saat kita tidur?”
Lea
terbangun. Segera Lea mengecek telefon genggamnya, sekarang tanggal 25 bulan
januari, pukul 19:03. Mengapa Lea tidur 12 jam terus sejak tinggal disini? Lea
juga heran. Sebelum sepenuhnya tersadar, 2 lelaki itu datang, dan melakukan hal
yang sama seperti kemarin malam, menyuap paksa Lea dengan makanan yg bau basi. Lea
memberontak, dia tidak mau diperlakukan seperti itu lagi, tapi lelaki yang
menyuapinya malah menamparnya. Lea semakin memberontak, tetapi lagi-lagi lelaki
itu menamparnya. Pedih, pedih sekali. Lea kehabisan tenaga dan mulai menurut.
Setelah semua selesai, kedua lelaki itu pergi meninggalkan Lea.
Hari-hari
berikutnya, Lea bagaikan menjalani sebuah rutinitas yang menyiksa. Bangun di
malam hari, dicekoki makanan, disiksa secara fisik apabila meronta, dan
tertidur beberapa lama setelah makan, terkadang apabila ingin buang air, mata Lea
ditutup dengan sapu tangan, dituntun ke kamar mandi, dan buang air, bila sudah
selesai, lelaki itu kembali menutup mata Lea dan menuntunnya kembali kekamar.
Suatu malam Lea terbangun, pukul 19:34, tanggal 27 januari. Rasanya saat itu
dia sudah mulai terbiasa dengan penculikan ini, kegiatannya diruangan ini, dan
makanan-makanan basi yang selalu masuk dengan paksa ke perutnya ini. Harus Lea
akui, ia tidak pernah takut selama diculik ini, ia yakin tidak lama lagi orang
tuanya akan menolongnya, mengingat wacana di koran yang pernah ia baca saat
pertama kali terbangun di ruangan ini.
Malam
itu, tidak seperti biasanya, dua lelaki itu tidak datang menyekoki Lea makan. Lea
mulai bangkit dari duduknya dan berjalan-jalan dengan hati-hati diatas lantai
kayu itu melihat-lihat ruangan yang tidak terlalu besar ini. Dia bercermin,
wajahnya sudah sangat layu dan kusam, rambutnya sudah lepek dan sangat
acak-acakan. Lea menemukan retakan cermin dimana ia bercermin sekarang, dengan
sedikit usaha, Lea melepas retakan cermin—yang besarnya hampir sebesar telefon
genggamnya—dari bingkainya. Ia menyibakkan kemejanya, dan menggoreskan patahan
cermin itu ke kulit perutnya, tepat diatas luka bekas operasi usus buntunya. Lea
membentuk huruf ‘E’ diperutnya, darah merah mengalir diatas permukaan kulitnya,
segera ia seka darah itu dengan kemejanya, “RIBET AMAT URUSANNYA BOS! Kita udah
kasih makan anak situ, baik-baik aja dia disini” “alah udah lah gausah—“ “ga
usah bawa polisi segala! Anak ente sehat disini, tinggal bawa duitnya, kita
bawa anak ente, kita tukeran di jalan sumatra depan kafe ikobana” “sekarang!!!”
percakapan diluar barusan membuat Lea lagi-lagi harus menajamkan pendengarannya
dan berusaha mengerti setiap kalimat yang ia dengar. Terdengar suara langkahan
kaki menuju kamar itu, “ayo buruan ikut” perintah lelaki yang barusan Lea
dengar sedang berdialog lewat telefon. Segera Lea kantongi pecahan cermin
bernoda darah itu disaku kemejanya, bersama telefon genggamnya.
***
“Eleanor!” seru Henry
penuh rasa cemas, “eits... mana barangnya?” kata lelaki yang selalu menyuapi Lea
beberapa hari kemarin, lelaki yang satu lagi, merangkul Lea dari belakang,
menghindarinya dari ayahnya. Dengan muka sinis Henry menghantamkan koper yang
cukup besar ke dada si lelaki pertama, dan dengan sigap Henry menarik tangan Lea
ke sisinya. Setelah lelaki itu memastikan koper itu berisi uang, mereka
menyeringai dan langsung masuk ke mobil. Henry pun membawa Lea masuk kemobilnya
dan membawa Lea pulang.
“Well. Lain kali ayah tidak akan biarkan kamu jalan malam-malam lagi
ya Le. Ayah tidak suka” ujar Henry memecah keheningan diperjalanan mereka
pulang. Lea tidak menjawab. Henry tahu putrinya ini sedang tidak mungkin diajak
berbicara, akhirnya Henry lebih memilih untuk fokus menyetir dengan kecepatan
cukup tinggi, jalanan masih sepi, saat itu masih pukul 2 dini hari. Sedangkan Lea,
baginya penculikan ini tidak seburuk seperti berita-berita di televisi, selama
dia menuruti kemauan penculik—yang hanya dipaksa untuk sekadar makan makanan
basi—maka dia akan baik-baik saja. Lea bukannya tidak bisa diajak bicara, hanya
saja daritadi dia berpikir, dimana kah ibunya? Sampai tidak menjemput putri
semata wayangnya ini yang habis diculik.
“Ibu, asyik tidak
sih jadi ibu rumah tangga?”
“Hahaha sebenarnya
ibu juga tidak suka bangun pagi sih.. Hehe...”
***
“Hey
putri tidur! Ayo bangun!” Lea mengenali suara itu, jelas. “bu?” “apa sayaaang?
Ayo bangun! Sudah jam 8 nih, ibu sudah biarkan kamu bolos, tapi bukan berarti
kamu boleh bangun siang ya, manis!” Lea buru-buru membuka matanya. Ya tuhan,
itu ibunya! Ibunya yang selalu dia pikirkan selama dia sendirian. Ibu yang
sangat ia rindukan. Lea sadari ia sudah mengenakan baju tidur. “ibu yang
gantikan, ibu tahu kamu lelah, dan kamu sangat kotor tadi le” Lea mencerna
kata-kata ibunya barusan. “bu, lihat ini” Lea menyingkap baju tidurnya dan
memperlihatkan lukanya yang masih terbuka. “huruf E?” ibunya menggaruk kepala.
“eh-hm, ayo bu lanjutkan” kata Lea antusias. “tidak sekarang Lea” ibunya
menjawab tegas, Lea tersenyum memasang muka jahil, ibunya pun tertawa dan lekas
mengambil silet dari meja belajar Lea. “baiklah, E tentu untuk Eleanor kan?”
kata ibunya sambil menggores huruf-huruf selanjutnya diperut Lea, “ya, habis
itu, tulis nama ibu disamping namaku.” “bukan kah lebih baik kamu tulis ‘IBU’
daripada menulis nama ibumu di perutmu? Hahaha” mereka berdua tertawa.
“Lea
sudah bang—ASTAGA LEA!” Henry buru-buru menarik Lea yang sedang duduk ditempat
tidurnya. “kita pergi ke terapis sekarang, tidak perlu ganti baju” kata Henry
panik sekali. “ayah berhenti!” jerit Lea, melepaskan tangannya dari cengkraman
ayahnya. “jangan dipisahkan lagi! aku baru bertemu ibu dari kemarin-kemarin aku
tidak dirumah—“ ”Lea—“ “aku tahu, ayah sudah mau memarahi aku tadi
dimobil gara-gara sebelum aku diculik, orang yang terakhir kutemui itu adalah
ibu ditaman kota kan? Sekarang ayah mau bawa aku pergi padahal jelas-jelas aku
dan ibu sedang melakukan hobi kita!” “Lea, dengar ayah!” “ayah tidak pernah
suka kan kalau aku dekat dengan ibu?! Ya kan yah?” “LEA, DENGAR AYAH!” Henry
menggebrak meja belajar Lea. Suasana hening. “kita berangkat sekarang..” bisik Henry.
“kemana yah?!” Lea masih marah, nafasnya tidaknya memburu. “ternyata penyakit
kamu belum sembuh, kamu seorang penderita self-injured,
le, kamu lupa? Menyakiti diri kamu sendiri, demi—“ “ayah bicara apa sih yah?! Aku hanya sedang
menggoreskan silet ke kulit perutku seperti yang biasa aku dan ibu lakukan!
Kami baik-baik saja! Ya kan bu?!” seru Lea. Suasana hening. Kini Henry
mengerti, ia membungkukkan badan, mengelus-elus dagu runcing putri semata
wayangnya ini.
“Lea.. ibu kamu sudah meninggal...”
kata henry, berusaha tetap menjaga wibawanya. Lea tidak bisa menjawab,
kebingungan.”ibu kenapa diam saja bu? Benar kan ceritaku selama ini? Ayah tidak
pernah suka kalau kita dekat bu!” jelas Lea, setengah berteriak. “8 maret 2010
lalu, kecelakaan mobil, ingat? Ibu kamu sudah tidak ada, sayang..”
Lea melihat sekelilingnya, serasa
tersambar petir, Lea sadari ia hanya berdua dikamarnya bersama ayahnya, Lea
melihat badannya sendiri, kemeja yang ia kenakan, masih kemeja seperti hari
saat ia diculik, bukan ibunya yang memegang silet, tetapi ia yang menggenggam
pecahan cermin yang ia bawa dari ruangan dimana ia diculik. Tidak pernah ada
yang menggantikannya baju. Tidak pernah ada yang mengajaknya bicara sebangunnya
ia pukul 8 tadi.
“Disekitar taman juga ga ada orang
mencurigakan, cuma kita berdua, sama si cewek itu”
“Polisi menduga, Lea
sedang asyik mendengarkan lagu”
Dimalam hari
ulang tahunnya itu, tidak ada yang Lea ajak bicara selain dirinya sendiri,
bersama earphone yang ia pakai
menemani dirinya yang sendirian malam itu.
Tidak pernah ada
tangan yang membelainya selama 2 tahun terakhir ini, itu semua hanya tangan
khayalan yang ia ciptakan sendiri. Tidak pernah ada hobi semacam itu, melainkan
jiwa Lea yang sakit, jiwa Lea yang terganggu, ia hanyalah gadis remaja yang
menderita kelainan. Mendadak ia ingat semua kegiatannya di pusat terapi kelainan
jiwa 1 tahun lalu. Dimana orang-orang menghentikan Lea saat ia mulai bermain
dengan benda tajam dan menggores-gores perutnya, dimana ia merasa semakin sakit
semakin baik. Itu semua bukan hobinya ataupun ibunya. Tidak pernah ada hobi
semacam itu.
Lea ternganga. Ia tidak mengerti,
ia tidak ingin mengerti.
“sekarang kita pergi ke terapis,
lalu sekalian perban luka-luka di perut kamu ya, sayang” tutur Henry lemah
lembut. Lea hanya bisa menurut.
***
9
maret 2010
Hari
ini hari pemakaman ibu. Sebenarnya semua berjalan lancar. Air mataku juga sudah
tidak banyak mengalir lagi seperti kemarin, aku sadari bahwa pada akhirnya kita
akan kembali lagi pada-Nya. Hari itu hujan. Aku dan ibu selalu suka hujan, bagi
ibu, hujan adalah hari dimana rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa turun, namun
bagiku, hujan hanyalah momen yang indah dan beraroma lucu, aku suka.Kita bukan
hujan kan? Kita bukan daur air yang diciptakan Tuhan tanpa habisnya, suatu
hari, kita pasti berhenti pada 1 fase, kematian membatasi kita untuk melanjutkan
hidup kita, tidak seperti butir-butiran air yang akan kembali turun kebumi
bagai bayi yang baru lahir, saat awan tak mampu lagi menahan air yang terlalu
banyak. Baiklah, aku mulai bingung, mungkin ini analogi yang aneh. Tidak banyak
yang bisa aku tulis, habis ini aku rasa aku harus kerumah nenekku, mungkin
disana akan terasa lebih baik.
Kuharap rasa rinduku pada ibu tidak
datang hari ini.
Bye,
diary.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think