Selasa, 20 Oktober 2015

i should brace myself later

I dreamed my father twice this week.
I don’t really seem to care to write this down, as my purpose earlier—remembering this stuff til the time I have no time to even think of him. Reading these words til the time I’ve forgotten everything all about my melancholy.


It was disaster. We were swimming in the ocean, with no sand. More like a deep swimming pool. There was water everywhere, as far as my eyes could see, there was nothing but water.  Then I remember the gigantic wave came and that was it—tsunami. He seemed okay, he was healthy. He protected me and the rest of us like every father would, he was always reliable.

Then I woke up, and I was reluctant to write this. It’s been awhile, I think. I chosed to ignore this.



We were in McD. Goddamn it.
I could see my aunt and her husband, and her children too. One another family that I care the most after my own.
I remembered I wanted everything, but we didn’t get any time. My mother told me to rush, of course because of him. My father didn’t like to wait.
 And McD selling corn and stuff—absurdity in a dream would never be absent in mine.
He had this disease. I was worried about him, why don’t you stay in bed? But he was okay, he walked, he talked, he stood, he crossed his arms. ‘He’s okay’, I was watching him closely.
It lasts quite long, I guess. I should pardon myself later that i keep skipping lots of events until the last thing happened before I woke up, it was—I wanted McD’s choco top ice cream, but I didn’t get any.


Then I woke up from my nap, and took a shower. I decided to write these down tonight

Rabu, 22 Juli 2015

color repvblic lip balm (skinny) review

oke sebelum kita mulai, i tell you: i aint no make up junkie nor beauty guru.
jadi gue ngereview ini bener2 karena gue pengen membagi pencerahan buat orang2 lain yang clueless tentang produk ini HEHE. Alodita udh bikin review sih, tp afterall menurut gue review tentang produk ini masih kurang cukup untuk orang yang suka ngulik informasi produk sebelum membelinya (seperti gue), so i hope this will help.


epilog dulu ya.
gue bukan org yg pake make up sehari-hari, cuma gue suka make lipstik.
dan gue udh lelah sama matte lipstick yang kadang bikin kering apalagi lipstik krim yang kurang natural menurut gue. jadi gue akhirnya memutuskan untuk nyari tinted lip balm. karena warnanya sheer jadi kesannya lebih natural dan nilai plusnya ya kandungannya bagus untuk kesehatan bibir.

jadi gue nyari lip balm sana sini yang murah (dibawah 100ribu), akhirnya ketemu deh sama produknya Color Repvblic lip balm ini.
gue beli yang skinny, karena gue ga minat sama yang didalam jar (chubby). ribet aja aplikasinya, dan menurut gue isinya kebanyakan (karena gue ga pernah seumur2 abisin produk makeup, jadi berakhir kadaluarsa)

oh, fyi gue nyari lipbalm bukan atas faedah kesehatan bibir gue, tapi karena gue nyari pewarna bibir yang tipis pas di apply, kebetulan ya biasanya yang warnanya sheer dan ringan itu balm, jadi gue beli ini produk. tapi gue sendiri (banyak mau) nyari yang warnanya pigmented enough to cover my natural lip color yang mana merupakan kualitas yang cukup susah ditemukan dalam lip balm,
but im so lucky i found this color repvblic balm karena mereka mengklaim bahwa pigmentasi di tinted balm mereka cukup tinggi. 

so then i excitedly ordered this SKINNY LIP BALM in shade RED WINE. ini warna merah dengan undertone magenta (i guess... -- im bad at describing color). dan balm dengan shade ini ada wangi coklatnya, yum!

and oh! this is my very very very honest review, so yeah.. here we go.

1. pigmentasinya sangat tinggi
produk ini highly pigmented bgt untuk sebuah lipbalm! almost like a lip stain for me.
bahkan untuk gue yang nyari pigmentasi tinggi aja kewalahan (jumawa sih). untuk gue yang nyari natural look dari lip balm ini jujur gue kecewa, karena untuk terlihat natural gue cuma bisa swatch satu kali di bibir bawah baru deh di sebar ke bibir atas. kalo gue swatch full lips, jatuhnya di bibir gue merah bangeeeeeet. and i dont want that look on my lips.

buat yang suka sama strong pigmentation, this balm is totally for you.

oh, dan warnanya ga gampang washed-off even after you eat. emang sebagian besar hilang, tapi you can still barely see it stains on your lips

2. the packaging is awful
oke, awalnya emang ini tube keliatan cute. bentuknya typical tube lip balm biasa macem nivea punya. tapi gue menemukan beberapa masalah di packaging produk gue (mungkin gue doang, i dont know):

* yang pertama, badannya ini di tempel dengan semacam kertas printed yang sangat tidak lengket, jadi kertas ini kebuka2 dan minta banget dicopot.
* yang kedua, balm ini ga bisa di roll kebawah! so this is fricking annoying!! like really. jadi pemecahannya adalah ya roll up secukupnya, tunggu sampai habis, baru roll up lagi.

3. kadaluarsanya cepat
disini ditulis bulan dan tahun kadaluarsanya, mine is on February 2016. and i got this balm in July 2015. lagi2 untuk gue yang ga setiap hari make lipstik/balm, yaa lumayan susah ngabisinnya. jadi agak sedih juga sih kalo ga abis

4. is it moisturizing?
the answer (for me) is YES. ga bikin kering, enak di bibir teksturnya. ga lengket ga oily or anything. untuk reapply ya beda-beda sih setiap orang, tapi kalau gue sendiri, setiap abis makan reapply. atau kalau ga makan, mungkin tahan 4-5 jam.


jadi kira-kira begitulah hal-hal yang mau gue bahas tentang balm ini.
untuk informasi umum sepertinya gampang ditemukan di website lain HAHA.
pada intinya, gue cuma berbagi hal-hal yang like literally my own opinion instead of basic information.

untuk gambar, gue memutuskan untuk tidak mengupload karena gue sendiri males foto hahaha, but if you wanna see just let me know (feel free to leave a comment) i'll upload it for you!

Rabu, 17 Juni 2015

my life currently

oke udah lama banget ga nulis, trs gue pengen nulis.
karena blog adalah jurnal bagi gue, seharusnya isinya bukan hanya seni menulis sebagaimana entri2 gue belakangan ini (yang isinya adalah paragraf2 hasil potongan2 pemikiran acak gue yang gue susun dan gue balut dalam seni tata bahasa) tapi juga harus ada sepotong cerita2 fakta tentang hari2 gue.

oke lagi, hidup gue sebagai mahasiswi sbnrnya sangat mengasikkan, dan cukup random. lalu gue memiliki beberapa kegiatan yang cukup absurd dan dengan menggemaskannya gue cintai. banyak hal-hal yang terjadi dihidup gue belakangan ini, yang akan gue tulis untuk mengenang2nya dikemudian hari dan mengingatkan gue bahwa gue pernah disitu disini disana dan mengalaminya.

1. Gue ambil semester pendek
liburan 3 bulan gini ngapain aja enaknya ya? awalnya excited pengen kesana sini sama temen2, dan ga mau keganggu sama yang namanya urusan kampus--depok, apalagi kuliah--ilmu2 kesehatan masyarakat. tp setelah gue pikir2, paling ujung2nya gue jamuran. jalan sama tmn ga bakal menyita waktu 3 bulan, dan harus gue bilang bahwa kegiatan semacam itu sangat tidak produktif tapi (dan lagi) gue mencintai pertemuan dengan teman2 membahas apa2 yang masuk akal dan yang tidak, apa2 yang diingat dan dilupa.
gue ambil 2 sks saja, karena niat awalnya mau nyodok, alias nyicil sks (ambis lulus cepat2, ntah kenapa. bukan mau nikah, hanya ambisi menurut tren. setelah itu apakah ada ide bagaimana melanjutkan hidup sebagai bukan mahasiswa?) 2 sks cukup banyak untuk mempertahankan produktivitas, dan cukup sedikit untuk menikmati liburan. so... yeah Kepemimpinan untuk Pengembangan Kesehatan dalam sebuah ruangan besar dinamai aula gedung G. tempat tepat untuk mengabaikan dosen, mengemil, tertidur, melakukan apa2, dan kabur dari kuliah.

2. GUE BELI CELLO
setelah nego dan menabung selama 1 tahun kurang, akhirnya gue beli cello di kenalannya Al anak violin mahawa, Mas Heru nama sang luthier. 6.25jt gue melayang kemarin hari senin, sekarang hari rabu. gue nyamperin rumahnya mas heru berdua Al, bertemu di barel, terus kita kesana naik angkot 2 kali, turun, terus jalan menyusuri blok2 perumahan sederhana. jalannya ga berujung berujung, kaki gue lecet, tp matahari tidak cukup panas untuk dimaki, jadi gue terus aja jalan bareng Al. nanya ini itu. ngobrolin tentang kakaknya, yang satu senior gue di cello juga--senior yang gue takutin. dan yang satunya lagi, seorang komposer--komposer yang gue kagumi betul2.

3. gue join berbagai kepanitiaan yang akhirnya gue sesali.
a. gerakan ui mengajar : gue ditolak pas wawancara. padahal gue pengen banget gabung disini
b. bedah kampus ui : gue selesai wawancara kemarin dan lagi nunggu pengumumannya hari ini.
c. epidemic fkmui : udh keterima sbg staff seminar nasional. gue ga terlalu merasa diayomi oleh senior2nya, mereka baik, tapi ga terlalu menumbuhkan rasa saling memiliki disini hmm
d. amazing FKM : ntah ini apa, karena diajakin sama temen2 seangkatan dan isinya jg anak2 seangkaan gue mengiyakan, jaman dahulu kala. dan baru dikontak semalam, dikasih tugas. lalu gue menyesal lagi. alasan gue bertahan sebenernya hanyalah untuk membuat gue tetap dalam jalur angkatan, karena gue udh merasa terlalu apatis, ansos, gaib, apapun disebutnya, dengan angkatan gue. gue lebih suka cari kegiatan diluar fakultas.
d. MAHAWADITRA : oke ini bukan kepanitiaan, karena ini adalah organisasi. intinya november kita akan ada grand konser dengan paragita, gue ga bisa bayangin betapa padatnya kegiatan gue di bulan november

4. gue mencoba magang di blitz megaplex
gue cuma baru isi form kmrn malem. katanya kalo dapet 1-2 hari akan ditelfon. selebihnya, belum rejeki. begitu katanya. katanya yang gue yakini. dan gue belum ditelfon.
ini cuma iseng aja sih, nyari kegiatan yang produktif (lagi dan lagi) gue butuh uang, ya. karena habis beli cello itu saldo gue kempes. dulu waktu nabung, gue ga terlalu ketat2 bgt sih, suka dipake ngehedon juga, mau beli apa2 gampang, karena angka di saldo berderet-deret, enak untuk dilihat. sejak kempes ini, gue jadi mulai berkhayal--kelak merasa butuh--tentang enaknya punya pemasukan

5. gue jadi cellist buat ngisi acara buka puasa di depok mall. (dengan orang asing)
yang ngajakin gue namanya tami, dia anak mahawa jg sebenernya, tapi gue bersumpah gue belum pernah ngeliat dia sama sekali. terus dia kontak gue via line, menjelaskan maksud tujuan prosedur ini itu tetek bengek sampai akhirnya gue menerima permintaan dia untuk menjadi cellist di chamber dia yang terdiri dari anak2 tempat lesnya. bentuknya suka rela, jadi ga dapet duit. (setelah menyadarinya lalu gue menyesal telah menyetujui). tapi gapapalah nyari pengalaman, latian sama orang asing, membuat teman baru dari orang2 asing ini, tampil di hadapan khalayak diluar kegiatan mahawaditra, dan nyobain chamber setelah mencoba orkestra.
oh ya, tami ini lucu cara ngomongnya, awalnya gue biasa aja. tp gue menyadari betapa lambat cara dia berbicara, dia memiliki perasaan yang cukup peka layaknya perempuan, tapi cara dia berbicara sama sekali tidak ekspresif, semua lambat, semua pelan, semua tenang.
dan satu lagi, gue ketemu sama dia pertama kali di FKM, dia sendiri anak FT (dia nyamperin gue buat ngasih partitur, betapa baik hati) hari selasa, lalu hari kamisnya gue tidur dirumah dia. itu terlalu absurd buat hidup gue.

6. apalagi ya?

Jumat, 29 Mei 2015

ren-NOT-dez-vous

hello there!
it's been awhile.

 "i am sorry for abandoning you, i'm sorry for how i've treated you"

should i be sorry?

i know how awful i treated you,
and i know how terrible i took all of your senses away in the end of that month.
you were my holiday.
you were my dallience.

do you want an explaination?
do you need a closure?
should i give you one?
i don't even know if i have any.

but, i am sorry.
i'm sorry for what i've done to you, for what i have made you turned into.
Now you curse the moment we met, now i wish the best of luck for you.
i really do, i really am.

Senin, 18 Mei 2015

Gula -- my unfinish (maybe) ode to a friend

Saya pikir kedua matanya bebas dan lepas, maksud saya—sehat. Tetapi ternyata kedua mata itu berbingkai bilamana saya melihatnya untuk pertama kali secara langsung. Saya mengenal wajahnya terlebih dahulu melalui sebuah gambar, oh, betapa berbeda. Manis. Kamu tahu, ada beberapa gula yang memiliki kemasan yang sangat menggemaskan, bahkan kemasan tersebut adalah alasan mengapa kamu mau membeli gula tersebut. Tetapi ada pula gula yang memiliki kemasan buruk rupa, namun kamu tahu bahwa gula itulah yang ingin lidahmu kecap, jadi pada akhirnya kamu tidak peduli. Lelaki ini, adalah gula yang lidah saya ingin kecap dan mata saya ingin resapi. Dia manis di luar dan di dalamnya.
Lelaki ini sering tersenyum, dan gelaknya bukan hal yang akan jarang kamu dengar ditengah pembicaraanmu dengannya. Saya tahu dia ceroboh, saya bisa mengatakannya dari cara dia bercerita—dan tentu saja isi ceritanya. Saya pandangi teman saya yang manis ini, oh, Tuhan, bukankah saya pengamat yang menakutkan? pori-pori wajahnya berdempet satu sama lain terisi penuh oleh rambut yang dicukur, rona abu-abu kebiruan melintas sepanjang baji hingga dagunya. Senyumnya sore itu, dengan matanya yang memicing, sinar matahari menyorotnya dari belakang. Semuanya terlihat kuning keemasan. Silau. tapi saya tahu dia adalah gula yang mata saya ingin resapi.
Dia datang kedalam hidup saya begitu cepat, dan saya menyukainya. Dengannya, saya dapat membicarakan banyak hal, tentunya mengenai hal-hal yang biasa dibicarakan oleh kaum mudi, namun yang berbeda ialah, dengannya saya dapat mengemukakan pendapat saya tanpa merasa canggung. Dia adalah lagu favoritmu di dalam sebuah toko kopi dan kue, dia adalah kegembiraan ditengah kehikmatan orang dengan kopi dan lawan bicaranya.
Apa yang cari selama ini? Kalau bisa saya gambarkan, diri saya adalah perempuan diawal usia dewasanya yang sangat menikmati kesendirian, perempuan yang menghabiskan waktunya sendirian di dalam toko kopi, dengan secangkir kopi dan tisunya diatas meja, telefon genggam atau sesekali buku fiksi di kedua genggamannya, dan beberapa tas karton berisi barang belanjaan menduduki kursi-kursi kosong disampingnya—yang dibeli untuk menyenangkan hatinya. lagi, apa yang cari? Saya mencintai kesendirian saya, dan saya memiliki kemampuan tinggi untuk menggembirakan diri saya sendirinya. Tetapi, lelaki ini datang, seperti lagu bossa nova yang selalu saya harapkan diputar di dalam toko kopi tersebut, lagu yang membuat saya tenang dan menikmati kesendirian saya lebih lagi. Dia adalah teman saya yang manis ditengah hidup saya yang berjalan buru-buru tanpa ingat untuk menunggu saya.
Saya membuka kemasan menggemaskan gula ini, saya lihat wujud gulanya sendiri. Saya sentuh permukaannya yang mengkilap kering. Bergores. Apakah gula ini yang lidah saya ingin kecap? Saya mencoba memahami aroma dari gula saya yang manis ini. Hambar bau. Hambar rasa? Saya belum tahu. Apakah gula ini manis? Apakah teman saya ini baik-baik saja?

Kini semua terasa lambat. Apakah kemampuan saya mengejar kehidupan saya yang buru-buru itu membaik? Saya tidak mengerti. Kupu-kupu sudah pergi dari perut saya, dan saya baru menyadarinya. Ada apa dengannya? Nampaknya dia bukan lagi gula yang lidah saya ingin kecap. Mungkin saya tidak menginginkannya sebagai lagu bossa nova yang selalu saya nantikan. Mungkin saya lebih membutuhkannya sebagai buku fiksi saya atau sekadar secangkir kopi saya


***

yhaaa gue hanyalah manusia biasa yang juga payah dalam menulis walaupun katanya sih suka nulis. gue ngerasa tulisan gue ini masih ga fokus, dan benang merah, klimaks, maupun penutup dari tulisan ini masih belum greget :'( btw gue udh lama bgt ga nulis, sekalinya mau nulis kagok gini dan otak  berasa sangat mampet, majal. 

mungkin suatu saat gue revisi ini tulisan. tapi untuk sekarang, gue hanya ingin membagi :)