Sepasang Mata dan Rahasianya
Pernahkah kamu menyaksikan sepasang mata yang dapat mengulurkan seutas tali?
Aku pernah.
Sang surya hari itu telah di bawah sepenggalahan
Saat itu pula kudapati seutas tali yang segeranya mengeratkan simpul pada seonggok hati dibalik rusukku yang berbaris.
Aku pernah.
Sang surya hari itu telah di bawah sepenggalahan
Saat itu pula kudapati seutas tali yang segeranya mengeratkan simpul pada seonggok hati dibalik rusukku yang berbaris.
Irisnya coklat pekat, cenderung hitam.
Tataplah seksama, sayang.
Ada jendela menembus bilik.
Terebah padang keemasan dimana hati ingin menetap.
Sebentar lagi tibalah kamu di relungnya.
Ruang lengang yang tidak pernah memiliki batas bagi siapapun.
Ruang bisu tempat kamu mengagumi bahkan lebih lagi.
Tataplah seksama, sayang.
Ada jendela menembus bilik.
Terebah padang keemasan dimana hati ingin menetap.
Sebentar lagi tibalah kamu di relungnya.
Ruang lengang yang tidak pernah memiliki batas bagi siapapun.
Ruang bisu tempat kamu mengagumi bahkan lebih lagi.
Tataplah lekat, sayang.
Maka disana tidak akan kamu temukan jawabannya.
Melainkan cekung kolam kerancuan.
Betapa sesuatu indah tanpa jawaban.
Itulah alasannya mengapa aku terlalu tenggelam di dalam matanya.
Maka disana tidak akan kamu temukan jawabannya.
Melainkan cekung kolam kerancuan.
Betapa sesuatu indah tanpa jawaban.
Itulah alasannya mengapa aku terlalu tenggelam di dalam matanya.
Malam demi malam, fase mengganti bulan.
Sabit melengkung, pula cembung hampir penuh.
Tak pernah kudapati purnama.
Hanya bundaran coklat pekat yang terbayang.
Hanya bundaran cenderung hitam yang jadi penantian.
Betapa kuingin penuh.
Tapi bundaran mata itu telah cukup.
Sabit melengkung, pula cembung hampir penuh.
Tak pernah kudapati purnama.
Hanya bundaran coklat pekat yang terbayang.
Hanya bundaran cenderung hitam yang jadi penantian.
Betapa kuingin penuh.
Tapi bundaran mata itu telah cukup.
Namun, kini matanya berbenteng.
Meredupkan segala binar yang memikat.
Membatasi jiwaku yang mencari.
Aku bukan lagi bebas, yang dapat menelusur relungnya lewat jendela.
Ada apa dengannya?
Oh, matanya yang kini majal!
Oh! Matanya yang dulu berpendar!
Meredupkan segala binar yang memikat.
Membatasi jiwaku yang mencari.
Aku bukan lagi bebas, yang dapat menelusur relungnya lewat jendela.
Ada apa dengannya?
Oh, matanya yang kini majal!
Oh! Matanya yang dulu berpendar!
Kusaksikan lain malam.
Saat timur melewati barat.
Saat fase kuharap berhenti.
Biarlah tetap menjadi sabit tanpa perlu beralih purnama.
Untuk apa kucari penggenapan bila ganjil belum dapat kujawab.
Saat timur melewati barat.
Saat fase kuharap berhenti.
Biarlah tetap menjadi sabit tanpa perlu beralih purnama.
Untuk apa kucari penggenapan bila ganjil belum dapat kujawab.
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think