Senin, 04 November 2013

frontal

kamu seharusnya ingat malam dimana saya kemalangan.
pula sore dimana kamu mengacau dengan menyedihkannya.

jadi ceritanya, kita semua tahu.
saya dengan pikiran kusut, dan jantung bolong yang bocor, dengan darah yang berceceran, terpaku dengan pikiran menerawang.
"lihat siapa yang datang?" kata beliau. kamu pernah melihatnya, dan mengganti ban mobilnya, ingat?
"dia sudah dengan orang lain" jawab saya dengan seringai yang dibuat-buat. saya kehilangan ketertarikan pada apapun hari itu.
"temuilah. tunjukan sedikit sikap hormat." ya, dia sedikit memerintah, tapi saya menyayanginya.
dengan enggan saya keluar rumah, dan matamu yang cemas menyambut mata saya yang kosong.

hal yang selanjutnya terjadi, kamu tentu tahu apa. tapi apakah kamu ingat?
baik.
yang saya ingin singgung adalah tentang yang terjadi dibagian akhir.
dimana ada hubungan yang sangat intim diantaranya. oh, dan saya bukan bicara tentang hal yang berbau zina.
seperti biasa ruangan itu dingin. saya tidak tahu apakah kamu ingat bahwa saya benci dingin.
dan ruangan itu gelap, tapi kamu menyalakan lampu, karena kamu membaca surat beramplop biru itu, yang dengan permohonan besar saya supaya kamu membaca di rumah. namun pada akhirnya saya pasrah. dan dengan seksama menyimak kamu yang melisankan kata-kata yang seharusnya cukup diresapi oleh hati, atau mungkin dengan sedikit akal.
ntah apakah kamu mengerti semua yang tertulis, tapi saya yakin kamu membacanya ulang beberapa kali di rumah, diatas kasur, berbaring, sebelum tidur. atau bahkan tidakkah sama sekali? apa beberapa carik kertas malang itu telah bersemayam dikeranjang sampah pada malam pertama kamu membawanya ke rumah?
perlukah saya peduli.

"kamu masih menyayangi saya?"
"sebagai teman, mungkin?"
lalu saya menatap air yang bergenang di pelupukmu. asin.
kita berdua tahu ada sesuatu yang belum selesai disana.

oh, ketahuilah, sayangku!
kamu akan selamanya menjadi yang saya kasihi, dengan atau tanpa memiliki.
karena sekarang saya telah mengerti.
menyayangi seseorang adalah cukup.
untuk apa saya minta lebih?
kamu selamanya adalah lebih dari sahabat yang terkasih di dalam hati saya.

sampai akhirnya sore itu datang.
sore yang absurd.
sore yang memalukan.

kamu datang, kita berdua tahu dengan siapa.
apakah yang kamu lakukan disana?
saya tidak pernah tahu.
tapi disitu yang saya tahu jelas, kualitasmu atas kelaki-lakian yang saya kagumi betul, turun hingga tidak memiliki nilai apa-apa. di mata saya setidaknya.
dimanakah sifat kelaki-lakianmu yang selalu saya hafal betul? bahkan kasat-kasat?
oh! salahlah saya, kini sifat itu hanya milik wanitamu, ya, tentu.
biarlah dia miliki sendiri, karena itulah halnya.
peduli setan kah kamu dengan pendapat saya?

mari saya deskripsikan sedikit tentang apa yang terjadi sore itu.
menurut apa yang nalar saya berhasil terjemahkan.
kamu datang, ya, betul.
dengan orang yang kita sama-sama tahu.
tapi apakah motifnya? itu yang sampai sekarang saya tidak pernah tahu, seperti yang saya bilang dari awal.
benarkah itu disebut jujur nekat--permainan yang bersifat sangat murahan dan norak ketika kamu melakoninya bersama dia. oh, ketahuilah!
kamu norak dan sangat menyedihkan.

gelaklah bahak-bahak lihat saya mempermasalahkan hal ini, tapi ini betul mengganggu saya.
maka malam itu, hubungan yang sangat intim yang terjadi itu, pun sama tidak bernilainya seperti dirimu di mata saya sekarang.

dan apakah kamu mempertanggungjawabkan perasaan saya, bahkan sedikit?
membaca pertanyaan saya pun tidak, betul?
kamu bahkan menghindari saya, menganggap semuanya semudah itu?
saya pikir malam itu istimewa, sampai akhirnya saya lihat betapa kamu dengan tidak beradabnya menguji reaksi seseorang sore itu, dan pergi bagaikan anak kampung yang lari tunggang langgang sehabis menekan bel rumah orang tanpa keperluan apa-apa, selain menghibur dirinya sendiri. begitukah?
itu terlalu infantil, tuan.

setelah itu, saya beberapa kali memikirkan malam dan sore kita yang cukup saya kenangkan.
dan kesimpulan yang muncul--dengan sendirinya--adalah, bahwa...
mungkin bagimu malam itu tidak ada artinya sama sekali, mata cemas itu hanya ada semalam.
dan sayalah yang seharusnya disalahkan dari awal, menganggap istimewa hal-hal yang sewajarnya terjadi diatas suasana yang relevan.

baik.
setidaknya,
sekarang kamu tahu.

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think