Kamis, 14 November 2013

Barang2 baru kesayangaaan♡

Ini sebenernya pos ga penting, cuma yang bikin ini sedikit istimewa adalah.... gue ngepost dari aplikasi Blogger for android. YEAY! -_-

Jd hape gue yg bb apollo masih ada, tapi karena keburukrupaannya yg tdk terpungkiri, mama gue dengan baik hati membelikan gue hp baru; Samsung Core
Gue sangat jatuh cinta dengan hp ini stlh mengenalnya semalam... pas awal belinya sih meh, nothing so special, Tapi pas udh gue bawa kerumah dan gue otak atik, i fall in love too hard with this crap. Dan seperti biasa gue selalu ngasih nama benda2 penting gue, gue kasih nama dia..... FREDERICO.
Terinspirasi dari tokoh yang jg sedang (cukup) gue idolakan, seorang poet yang idealis dan memperjuangkan revolusi spanyol pada saat PD 2, FEDERICO GARCIA-LORCA. Ya... gue pilih nambahin R diantara F dan E dengan alasan tertentu yg cukup spesifik...
well, i guess thats enough.

JADI.
Sbnrnya yg mau gue ceritain kali ini adalah tentang sepatu!
Gue mesen sepatu sama tmn gue, gatau napa gue ngorek2 katalog sepatu online disaat gue lg ga butuh sepatu sama sekali, Krn bagi gue sepatu itu sangat tempting... seperti ibu gue yg sangat tempted kalo ngeliat tas. Jujur dulu gue heran knp papa gue suka bgt beli sepatu drpd beli baju atau yang lainnya. Krn mnrt gue sepatu bukanlah hal yang perlu diganti2, but now... i get it, pa!

Gue pengen banget punya sepatu yang ada heels 2cm, untuk acara semi formal. Karena kalo ke acara formal/semiformal gitu, susah bgt buat gue nemu sepatu yang pas. Wedges gue rata2 5cm. Jaman skrg susah nyari mid-low heels yang modelnya ucul. Rata2 midlow heels yang gue temuin, modelnya kaya emak2 atau ga kaya sepatu pantofel guru2... atau, kali yang modelnya lucu2 gitu pasti tinggi bangeeeettt..
This is kinda frustrating for me-_-

Trs alhamdulillah gue nemu katalog sepatu temen gue itu. Heelsnya 2.5 cm lah, dan modelnya ucuuul. You know, the famous Black and White Oxford Shoes. Tp kalo ini ada heelsnya. Dulu gue ga trtarik bgt sm oxford shoes. Ini jg gatau napa asal2 beli aja, kebetulan nemu sepatu heels rendah dengan model yg cukup ucul jadi dibeli aja deh kalo2 ntar butuh.
Btw alasan gue nyari sepatu rendah karena gue sbnrnya udh cukup tinggi wkwk gue 167cm, dan diumur gue yg baru 18, ngeselin ga sih kalo acara2 formal gt make spatu tinggi2 kayanya centil amat wkwk ga juga sih... tp itu bukan tipe gue aja berani tampil kaya gitu.

Banyak yg bilang gue orangnya klasik, emang sih i admit that... dari musik gue denger klasik, dari film jg lbh suka yang jaman settingnya jadul. dimana manusia masih sangat sopan dan banyak tradisi2 klasik yang sangaaaat menarik bagi diri gue. Atau kalo bukan ngmgin setting, gue jg lebih suka film produksi 80-90an, soalnya efek masih minim, dan yang menonjol adalah jalan cerita filmnya yang ga semonoton film jaman skrg. Orang menemukan gue adalah org yg ga tertarik sama hal2 berbau futuristik, ya gue ngaku memang menurut gue masa2 edwardian/victorian msh lebih menarik drpd hal2 modern kaya skrg.
Gue jg lebih sering bljr lagu klasik di piano. Mnrt gue lagu klasik lebih dinamis dan lebih menyimpan cerita aja drpd lagu2 jaman skrg. Tmn gue suka ngecengin musik2 yg gue setel kalo mereka lg nebeng gue nyetir-_- dan temen gue ntah kenapa bilang mobil gue (nama mobil gue Broty, FYI :P) udah klop banget, pdhl itu mobil honda civic taun 98 wkwk kayanya emang ya yang berbau butut dan jadul itu 'gue' banget bagi mereka... -_-'

Oya, sepatu!
akhirnya dateng tuh sepatu...
Sepatu yang asal aja gue beli, mengingat gue ga pernah tertarik sama oxford shoes, betapapun klasiknya tuh sepatu.
Dan pas gue liat wujud tuh sepatu dikaki gue.... OMG JATUH CINTA BEEEETTTTT!!!
kayanya pas aja buat guee. Modelnya sederhana tp tetep berkarakter, dan tingginya itu yang pas bgt kaya yang gue cari!
Sumpah awalnya gue sempet nyesel udh mesen tuh sepatu, tapi trnyata skrg gue jatuh cinta bgt...
Atau gue yg terlalu gampang jatuh cinta? Wkwk

Hari Minggu akhir pekan ini bang aulia--Sodara jauh tiri gue wkwk mau menikah! I have no doubt i will wear those shoes, yippie!!

Senin, 04 November 2013

keduabelas

Ah! Surga yang ke-12.
Saya ceritakan singkat-singkat saja, bagaimana?
Sesungguhnya alasan saya menulis mimpi-mimpi putus asa saya ini bukanlah membagi cerita, tapi untuk mengenangnya melalui rangkaian huruf yang membentuk kata-kata, yang selanjutnya menjadikannya beberapa paragraf, yang akan saya baca suatu waktu. Mungkin beberapa tahun kedepan, saat saya sudah cukup sibuk untuk menangisi dan mengenang beliau dengan cengeng. Maka tulisan inilah yang akan menjadi saksi-saksi yang cukup esensial.

malam 3 November 2013
Ntahlah, mereka terlihat indah disana, di foto. Foto yang diunggah ke jejaring sosial.
Mama, berkerudung, tentunya. Lensa gelap kecoklatan dengan penyambungnya menggantung dihidungnya yang mancung, hidung yang saya kagumi! Kulitnya berona merah muda pekat disepanjang pipi kiri hingga pipi kanannya. Warna krim terang nyaris putih menjadi dasar dari warna wajahnya keseluruhan, ya dia terlalu putih untuk menjadi ibu saya. Batang hidungnya pun berona kemerahan. Senyumnya manis. Betapa tidak? Dia bersanding dengan papa! Ayah saya yang hilang, ayah saya yang diambil-Nya. Papa dengan wajah yang selalu muda diingatan saya. Merangkul mama saya. Dan terlihat foto mereka berjumlah empat dalam satu bingkai.
Latarnya pantai.
Hari yang kuning, hari yang menyengat.
Lalu saya ingat momen dimana mereka mengambil foto itu.
Tapi, saya lupa sebagai apakah saya?
Anak mereka yang egois, keras kepala, berhidung buruk rupa dan ikut serta dalam liburan dihari yang terik itu, atau sebagai orang ketiga—si pemilik mimpi--yang serba tahu?
Papa tidak bisa berhenti mengemil segala jenis kacang-kacangan. Sampai, saya ingat betul, saat beliau berselancar(ini, bagian dari keabsurdan mimpinya)beliau mengangkat tinggi-tinggi lapisan kardus yang bertuliskan “I LOVE NUTS SO MUCH”

Dan tahukah kamu?
Disekolah, keesokan paginya. teman saya membawa sebungkus “mixed nuts” yang selanjutnya dia konsumsi. Yang membuat saya tertegun dan membawa pikiran saya melayang, sampai akhirnya saya putuskan untuk memintanya untuk membagi beberapa jumput kacang-kacangan olahan itu. Hm, daun jeruknya mendominasi.

Apakah kamu golongan orang-orang yang mempercayai kekuatan otak manusia yang maha dahsyat itu, ataukah kamu golongan yang lebih mempercayai kebetulan?

frontal

kamu seharusnya ingat malam dimana saya kemalangan.
pula sore dimana kamu mengacau dengan menyedihkannya.

jadi ceritanya, kita semua tahu.
saya dengan pikiran kusut, dan jantung bolong yang bocor, dengan darah yang berceceran, terpaku dengan pikiran menerawang.
"lihat siapa yang datang?" kata beliau. kamu pernah melihatnya, dan mengganti ban mobilnya, ingat?
"dia sudah dengan orang lain" jawab saya dengan seringai yang dibuat-buat. saya kehilangan ketertarikan pada apapun hari itu.
"temuilah. tunjukan sedikit sikap hormat." ya, dia sedikit memerintah, tapi saya menyayanginya.
dengan enggan saya keluar rumah, dan matamu yang cemas menyambut mata saya yang kosong.

hal yang selanjutnya terjadi, kamu tentu tahu apa. tapi apakah kamu ingat?
baik.
yang saya ingin singgung adalah tentang yang terjadi dibagian akhir.
dimana ada hubungan yang sangat intim diantaranya. oh, dan saya bukan bicara tentang hal yang berbau zina.
seperti biasa ruangan itu dingin. saya tidak tahu apakah kamu ingat bahwa saya benci dingin.
dan ruangan itu gelap, tapi kamu menyalakan lampu, karena kamu membaca surat beramplop biru itu, yang dengan permohonan besar saya supaya kamu membaca di rumah. namun pada akhirnya saya pasrah. dan dengan seksama menyimak kamu yang melisankan kata-kata yang seharusnya cukup diresapi oleh hati, atau mungkin dengan sedikit akal.
ntah apakah kamu mengerti semua yang tertulis, tapi saya yakin kamu membacanya ulang beberapa kali di rumah, diatas kasur, berbaring, sebelum tidur. atau bahkan tidakkah sama sekali? apa beberapa carik kertas malang itu telah bersemayam dikeranjang sampah pada malam pertama kamu membawanya ke rumah?
perlukah saya peduli.

"kamu masih menyayangi saya?"
"sebagai teman, mungkin?"
lalu saya menatap air yang bergenang di pelupukmu. asin.
kita berdua tahu ada sesuatu yang belum selesai disana.

oh, ketahuilah, sayangku!
kamu akan selamanya menjadi yang saya kasihi, dengan atau tanpa memiliki.
karena sekarang saya telah mengerti.
menyayangi seseorang adalah cukup.
untuk apa saya minta lebih?
kamu selamanya adalah lebih dari sahabat yang terkasih di dalam hati saya.

sampai akhirnya sore itu datang.
sore yang absurd.
sore yang memalukan.

kamu datang, kita berdua tahu dengan siapa.
apakah yang kamu lakukan disana?
saya tidak pernah tahu.
tapi disitu yang saya tahu jelas, kualitasmu atas kelaki-lakian yang saya kagumi betul, turun hingga tidak memiliki nilai apa-apa. di mata saya setidaknya.
dimanakah sifat kelaki-lakianmu yang selalu saya hafal betul? bahkan kasat-kasat?
oh! salahlah saya, kini sifat itu hanya milik wanitamu, ya, tentu.
biarlah dia miliki sendiri, karena itulah halnya.
peduli setan kah kamu dengan pendapat saya?

mari saya deskripsikan sedikit tentang apa yang terjadi sore itu.
menurut apa yang nalar saya berhasil terjemahkan.
kamu datang, ya, betul.
dengan orang yang kita sama-sama tahu.
tapi apakah motifnya? itu yang sampai sekarang saya tidak pernah tahu, seperti yang saya bilang dari awal.
benarkah itu disebut jujur nekat--permainan yang bersifat sangat murahan dan norak ketika kamu melakoninya bersama dia. oh, ketahuilah!
kamu norak dan sangat menyedihkan.

gelaklah bahak-bahak lihat saya mempermasalahkan hal ini, tapi ini betul mengganggu saya.
maka malam itu, hubungan yang sangat intim yang terjadi itu, pun sama tidak bernilainya seperti dirimu di mata saya sekarang.

dan apakah kamu mempertanggungjawabkan perasaan saya, bahkan sedikit?
membaca pertanyaan saya pun tidak, betul?
kamu bahkan menghindari saya, menganggap semuanya semudah itu?
saya pikir malam itu istimewa, sampai akhirnya saya lihat betapa kamu dengan tidak beradabnya menguji reaksi seseorang sore itu, dan pergi bagaikan anak kampung yang lari tunggang langgang sehabis menekan bel rumah orang tanpa keperluan apa-apa, selain menghibur dirinya sendiri. begitukah?
itu terlalu infantil, tuan.

setelah itu, saya beberapa kali memikirkan malam dan sore kita yang cukup saya kenangkan.
dan kesimpulan yang muncul--dengan sendirinya--adalah, bahwa...
mungkin bagimu malam itu tidak ada artinya sama sekali, mata cemas itu hanya ada semalam.
dan sayalah yang seharusnya disalahkan dari awal, menganggap istimewa hal-hal yang sewajarnya terjadi diatas suasana yang relevan.

baik.
setidaknya,
sekarang kamu tahu.