Senin, 23 September 2013

Sultry evening

saya mengingat senja yang lelah dimana semua lengang.
disaat seluruh permukaan kulit melembab, pipi gadis itu merona kemerahan karena panas.
kulitnya bukan putih, maka rona pipinya bukan manis, tapi pedas.
kulitnya pun mengkilap diatas tulang pipinya yang ceper.
sedangkan lelaki itu, yang menenggak habis susu cokelat menyeka kumisnya yang berlumuran lemak.
kulit kering mengelupas di ujung-ujung bibirnya.
hidungnya, pipinya, tidak kalah lembabnya dengan milik si perempuan.

senja yang lelah.
si perempuan menaungi badannya yang tipis pada tubuh lelaki itu seluruhnya,
merebahkan ubun-ubun pada bidang berwangi khas.
si lelaki menahan kepada dinding dan melingkarkan lengannya menyambut wujud perempuan itu,
menundukkan kepalanya sejajar dengan telinga yang terbungkus.
mereka berhimpit.

senja yang lengang.
mereka tidak banyak bicara.
aroma merebak bersama zat yang merindu.
itulah mengapa ada wangi yang terkenang antara sepasang adam dan hawa.
lelaki mengecup kilap berona kemerahan pedas.
perempuan tiada lain selain terpejam, menghimpitkan badan lebih lagi.

senja yang panas.
siapa lingkungan siapa sistem?
tidak peduli, kalor lalu lalang dari entah mana
ada yang bergerak tipis diantara mereka
entah kalor entah padatan. mungkin mereka. yang saling berkasihan.
rona itu makin menjadi, disaat dua pasang mata saling bertemu.
betapa rasa dari hati dan sentuhan dari wujud bermakna sama
mungkin salah satunya semu, 
tapi siapa bisa membedakan?
dia sedikit terengah, nafasnya memburu

adakah sesuatu menegang padanya seperti sesuatu melembab pada celah?
senja yang indah.

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think