Senin, 30 September 2013

kesebelas

akhirnya, saya bertemu lagi dengan surga saya.
yang lama tidak menjemput saya, dan lucunya, tidak saya nantikan.
pada akhirnya, dia datang sendiri.
hari Minggu itu, hari yang malas, siang menjelang sore yang memutusasakan.
saya memilih untuk tidur siang.

***

bulan mengganti matahari.
malam belum larut dan saya berada di Pekan Raya Jakarta.
Ayah saya mengenakan batik satin berwarna hijau pucat berseling coklat susu.
batik milik ibu saya, yang dikenakan pada foto keluarga 8 tahun lalu.
itulah keabsurdan dari sebuah mimpi--seperti yang sering saya bilang.

Ayah datang, dibawa oleh adiknya, tante saya yang selalu dingin.
wujudnya ayah, tapi orang bilang itu adiknya yang lain; om saya yang bodoh.
saya tidak peduli.
wujudnya Ayah.
saya memeluk beliau, seperti biasa.
tidak saya temukan aroma khasnya, tapi kehangatannya tidak bisa dipungkiri.

saya tenggelam terbungkus oleh wujudnya.
saya ingat betul rasanya,
berada dalam dekapan seorang ayah.
Ayah saya yang pergi.
Ayah saya yang hilang diambil-Nya.

kain satin itu lembut menggesek pipi saya.
hangat tubuh ayah saya menjalar melumuri permukaan kulit saya,
menelusup hingga ke relung saya yang terdalam, menggetarkan sebagian tubuh saya.
bagian yang tidak saya tahu apa.
itulah rasa tak terdeskripsikan dari dekapan seorang ayah yang saya ingat betul.
saya menatap wajahnya sebentar, betulkah ayah?
Ayah saya yang berkumis lebat.
Ayah saya dengan bekas cukuran janggutnya yang kentara.
saya memeluk beliau, lagi, seperti biasa.
jangan bangun.

Ayah seperti apakah papa saya?
dia memiliki cahaya, bisu namun menerangi. lengang namun menuntun.

***

ternyata hari itu adalah tanggal 29.
tanggal dimana Tuhan mengambil matahari dari saya.
tanggal dimana Tuhan membiarkan saya kedinginan dalam gelap.
Apakah pikir-Mu 17 tahun itu sudah cukup?

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think