kalau dibilang siap sampai sekarang pun belum siap, dan ga akan pernah siap.
kenapa harus menulis?
gue pengen menuangkan dan mengabadikannya aja dalam tulisan.
jadi apa yang akan ditulis sekarang?
tulisan sebelum dan sesudah hal itu terjadi., yang tersimpan di laptop gue.
***
15 Januari 2013
Pernahkah anda menangis sampai menggigil hebat?
Pernahkah anda meraung namun hanya kelelengan yang terdengar?
Malam itu, beberapa bulan lalu hujan deras. Saat awan tidak
lagi mampu membendung air, maka malam itu pula hati saya tidak mampu lagi
menahan rasa sakit. Malam ini hujan deras, dan disinilah saya, menangis kembali
menggigil meraung dalam hening.
Saat ini, mungkin anak-anak katak sedang menari menyambut
hujan. Mungkin pohon-pohon sedang puas puas menenggak tetes demi tetes pula
guyuran demi guyuran air yang turun. Tapi saat ini pula, Jakarta sedang
berkutat dengan hiruk pikuknya banjir, mungkin petani-petani sedang menghitung
rugi-ruginya akibat ladangnya yang terendam air hujan.
Katak dan pohon menyambut hujannya. Penantiannya yang
datang.
Jakarta dan petani mencari mataharinya. Miliknya yang hilang
diambil.
Maka disinilah saya, melepaskan milik saya yang akan hilang
diambil.
Tuhan telah mengambil matahari saya.
Seharusnya saya marah, atau kecewa, atau menjadi gila, atau
, atau murka. Tapi nyatanya yang mengisi ruang renungan dan mengendalikan saya
hanya pertanyaan, hanya sebuah ‘mengapa’.
Mengapa ,Tuhan?
Mengapa diciptakan-Nya daur air tetapi bukan daur manusia?
Mengapa diizinkan-Nya air yang telah jatuh maka dapat dibuat-Nya naik dan turun
lagi terus menerus? Mengapa diambil-Nya milik saya dan tidak dikembalikan-Nya
lagi sebagaimana diambil-Nya air dan diturunkan-Nya lagi setelah menetap
disinggasana yang disebut awan?
Mengapa, Tuhan?
Tuhan telah mengambil sinar yang menghangatkan hati pula
raga saya seluruh.
31 Januari 2013
Tuhan telah mengambil matahari dari saya.
Meninggalkan saya kedinginan dalam gelap.
Namun ternyata tepat pada 29 Januari pukul 23.05 WIB Tuhan
telah mengembalikan sinar yang hilang dari matahari saya yang diambil.
Tuhan jadikan matahari saya yang diambil bersinar lagi,
bersinar dengan abadi didalam keabadian yang kekal.
Maka ditanggal 30 Januari kurang lebih pukul 9 pagi, hujan
menghampiri rumah saya kembali, hujan dengan matahari yang bersinar menerangi.
***
well... tulisan ini ga jelas, tp sebenarnya ini sudah mewakili semua kejadian.
menyemenyemenye
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think