Rabu, 20 Maret 2013

sebuah barang dan rahasianya

pulang dari sekolah saya dikejutkan dengan kotak kotak yang cukup besar yang diletakkan diatas lantai ruang tengah rumah saya, jg kotak-kotak penyimpan alat tulis meja yang diletakkan diatas meja ruang tamu rumah saya pula.

saya analisis pemandangan saya sejurus, maka saya mengerti.
itu punya ayah.
barang-barangnya dari kantor.

saya teliti satu per satu barang.
saya mulai dari kotak-kotak kecil tempat alat tulis meja, ada 2 buah.
yang pertama jelas familiar, berwarna coklat pastel.
yang kedua saya tahu itu barang asing.
masing-masing saya lihat isinya, kebanyakan alat tulis dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.
namun saya terkejut saat saya temukan penghapus merah jambu berbentuk muka beruang, milik saya dulu, mungkin sekitar kelas 2 SD saya memilikinya. penghapus yang sudah kumal, dan terlihat jarang terpakai.
saya lihat lagi gunting milik saya yang bertanda -NK- untuk 'Niken'.
saya temukan penghapus lain yang terlihat lebih sering dipakai, bermerk dan berkualitas tinggi. maka dengan cepat saya dibawa ke masa lalu, saya kenang-kenang semuanya.

kenapa barang-barang saya diambil begitu saja tanpa tujuan apapun?
bahkan beliau memiliki penghapus yang jauh lebih baik dan berkualitas tinggi, jadi adakah guna penghapus merah jambu beruang saya yang sudah berumur 9 tahun lebih selain menyimpannya begitu saja?
juga gunting milik saya yg bahkan menggunting tisu pun sudah tak mampu disimpannya begitu saja?
inikah cara beliau untuk mengenang-ngenang saya?
air mata saya mengalir.


Selasa, 12 Maret 2013

AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH AYAH

tulisan lain di laptop.


6 Januari 2013
Apa arti seorang ayah apabila ia hanya menafkahi, namun tidak membesarkan?
Apa arti seorang ayah apabila ia hanya memberitahu, namun tidak mendidik?
Apa arti seorang ayah apabila ia hanya melihat, namun tidak mengawasi?
Apa arti seorang ayah apabila ia hanya memberi, namun tidak mengasihi?
Maka apa pula arti darah daging apabila yang terhubung hanya genetika, namun bukan perasaan?


31 Januari 2013
O, maka kini saya temu semua jawaban yang mengawang-ngawang memenuhi ruang pikiran saya hingga sesak, ruang pikiran saya yang tidak pernah memiliki batas sampai kapan pun jua.
Bahwa sesungguhnya semua perkara tiada arti apabila beliaulah seonggok daging dan segumpal darah yang mengawali seluruh zat dalam tubuh saya. Induk dari seluruh zat yang mengalir yang menjadikan saya berwujud dan tersentuhkan, dimana mengalir memenuhilah seluruh jiwa raga saya dengan separuh dirinya, diri beliau, diri beliau yang saya hormati pula cintai sampai kapanpun.

tulisan sebelum dan sesudah kehilangan

ah.. sudah lama gue mikir untuk berusaha menulisnya, tentang kronologis, perasaan pribadi, dan semacamnya, tapi diurungkan lagi niat gue itu, belum siap.
kalau dibilang siap sampai sekarang pun belum siap, dan ga akan pernah siap.

kenapa harus menulis?
gue pengen menuangkan dan mengabadikannya aja dalam tulisan.
jadi apa yang akan ditulis sekarang?
tulisan sebelum dan sesudah hal itu terjadi., yang tersimpan di laptop gue.

***


15 Januari 2013
Pernahkah anda menangis sampai menggigil hebat?
Pernahkah anda meraung namun hanya kelelengan yang terdengar?

Malam itu, beberapa bulan lalu hujan deras. Saat awan tidak lagi mampu membendung air, maka malam itu pula hati saya tidak mampu lagi menahan rasa sakit. Malam ini hujan deras, dan disinilah saya, menangis kembali menggigil meraung dalam hening.
Saat ini, mungkin anak-anak katak sedang menari menyambut hujan. Mungkin pohon-pohon sedang puas puas menenggak tetes demi tetes pula guyuran demi guyuran air yang turun. Tapi saat ini pula, Jakarta sedang berkutat dengan hiruk pikuknya banjir, mungkin petani-petani sedang menghitung rugi-ruginya akibat ladangnya yang terendam air hujan.

Katak dan pohon menyambut hujannya. Penantiannya yang datang.
Jakarta dan petani mencari mataharinya. Miliknya yang hilang diambil.

Maka disinilah saya, melepaskan milik saya yang akan hilang diambil.
Tuhan telah mengambil matahari saya.
Seharusnya saya marah, atau kecewa, atau menjadi gila, atau , atau murka. Tapi nyatanya yang mengisi ruang renungan dan mengendalikan saya hanya pertanyaan, hanya sebuah ‘mengapa’.
Mengapa ,Tuhan?
Mengapa diciptakan-Nya daur air tetapi bukan daur manusia? Mengapa diizinkan-Nya air yang telah jatuh maka dapat dibuat-Nya naik dan turun lagi terus menerus? Mengapa diambil-Nya milik saya dan tidak dikembalikan-Nya lagi sebagaimana diambil-Nya air dan diturunkan-Nya lagi setelah menetap disinggasana yang disebut awan?
Mengapa, Tuhan?
Tuhan telah mengambil sinar yang menghangatkan hati pula raga saya seluruh.

31 Januari 2013
Tuhan telah mengambil matahari dari saya.
Meninggalkan saya kedinginan dalam gelap.
Namun ternyata tepat pada 29 Januari pukul 23.05 WIB Tuhan telah mengembalikan sinar yang hilang dari matahari saya yang diambil.
Tuhan jadikan matahari saya yang diambil bersinar lagi, bersinar dengan abadi didalam keabadian yang kekal.
Maka ditanggal 30 Januari kurang lebih pukul 9 pagi, hujan menghampiri rumah saya kembali, hujan dengan matahari yang bersinar menerangi.

***

well... tulisan ini ga jelas, tp sebenarnya ini sudah mewakili semua kejadian.
menyemenyemenye

mimpi

saya tidak pernah terhanyut dalam mimpi.
saya tidak pernah merasa bersemangat untuk melihat mimpi saya setiap malam.
tapi setelah saya kehilangan ayah saya,
saya menemukan surga dalam mimpi.
mimpi adalah surga bagi saya.

***

saya masuk kedalam mobil, mobil honda civic 1998 berwarna merah saya.
saya temukan ayah saya sudah duduk di jok belakang sebelah kanan.
"father??! what're you doing here?????!!!"
lalu dia hanya tersenyum jahil.
"father, seriously!!!"
"i got an offered. to continue my afterlife journey, or come here and live again..", beliau menjelaskan tenang, masih dengan muka bercanda.
"you must be kidding me... then what was you response?" saya bertanya cemas.
"i come here to see my lovely children", jawab beliau.
maka disini mulai nampak figur kakak pertama saya, mas fandi, duduk dikursi supir.
"then.. how does it feel? the afterlife.." saya bertanya, masih cemas.
selanjutnya saya lupa apa jawaban beliau, namun yang saya ingat penjelasan itu tidak selesai.
"who else can see you?" tanya saya.
"just the two of you, only my own children."

***

saya berjalan mendorong troli belanjaan saya, di rak sayur dan segala macam kebutuhan dapur.
oh, saya lihat ayah saya duduk diatas rak dengan baju piyama biru keabu-abuan, diantara jeruk dan brokoli, tersenyum simpul kepada saya.

***

"i love you, sweetheart" kata ayah saya dengan air mukanya yang khas. sehat, dan bahagia.
"i have you back, father.." ujar saya nyaris menangis, ntah bahagia atau sedih. saya berdiri disamping kasur rumah sakit tempat dia berbaring
rumah sakit yang tidak saya kenali, namun cuacanya cerah, saya bisa lihat cahaya matahari masuk dari jendela didinding tempat kasur ayah saya bersandar, maka ruangan itu bernuansa kekuning-kuningan.
saya lihat ada ibu saya, dan saya sadari bahwa didalam ruangan itu tidak hanya terdapat 1 kasur, namun 2!
disana terbaring kakak saya yang ketiga, mas adit. mas adit habis kecelakaan dan dirawat satu ruangan dengan ayah saya.

***

malam itu ntah permainan apa yang kami mainkan, mas fandi memenggal tepat di perut saya, maka mengangislah saya merintih sekarat. tapi tidak mengapa, akan saya susul Ayah, sebab rindu dendam ingin tinggal bersama saling berkasih-kasihan lagi.
mintalah saya agar mas fandi sekiranya tembakka bedil pada kening saya...
serasa disambar petir, sengatan petir yang berpusat hanya dikepala.
namun pedih perihnya hanya sejurus, maka saya rasakan perpisahan jiwa dengan sukma secara perlahan, pada saat itu tahu betul saya bahwa saya hendak mati.
saya rasakan rasanya mati,hanya seperti tertidur, berdoalah saya pada Sang Maha Pencipta lagi Maha Pencabut tempat kami sekalian kembali, meminta saya agar sekiranya diberikanlah saya tempat dengan ayah yang saling berdamping-dampingan, peliharalah kami dan lapangkanlah tempat istirahat kami, berkali-kali saya panjatkan doa yang sama itu berulang-ulang.
lalu dapat saya lihat saya sudah berada disamping ayah, ayah yang tertidur.

tiba-tiba saya rasakan hujan mengguyur diri saya, tentulah heran.
saya membuka mata, bukan dialam Barzakh, bukan dipusara, tidak lain dijalanan depan rumah saya, sendirian.
saya lihat hujan turun deras-deras, berserta kabut yang menjilati mata saya.

saya lihat mobil honda civic saya dikemudikan cepat-cepat oleh mas fandi.
maka mencobalah saya temukan jawaban atas sangkaan saya yang keragu-raguan, saya berteriak memanggil mas fandi. yang terjadi selanjutnya tidak lain dari mengejutkan, disahutnya saya dan dihampiri saya.
saya masih hidup? saya kembali ke dunia! saya masuki mobil saya, dan dijelaskan oleh mas fandi bahwa seorang dokter telah berhasil menyelamatkan diri saya saat saya sekarat melarat, maka apakah pertemuan saya dengan ayah, semua yang sudah saya alami sebelumnya hanyalah perjalanan jiwa?
sebelum seorangpun berhasil menjelaskan maka saya terbangun, oh! kini nyatalah semuanya hanya mimpi!

***

ntah apa yang beliau katakan, akhirnya saya sadar beliau yang barusan berbicara tiadalain adalah ayah saya.
dengan baju kaos berwarna hitam, kami duduk dimeja makan rumah kami. ternyata disana terduduk pula adik ayah saya dengan suaminya, tante ita dan om hadi. namun saya tidak peduli, saya pandang lekat-lekat wajah ayah saya, puas-puas saya lepas rindu dendam melalui tatapan kepada ayah, ayah saya dengan air wajahnya yang khas, ayah saya yang hilang diambil-Nya.

***

ada apa diluar? saya berjalan menuju pintu masuk rumah saya, hendak keluar melihat apa yang terjadi.
oh rumah saya kemalangan! siapa yang meninggal? ayah saya sudah pergi terdahulu, maka kepada siapa lagi saya kehilangan?
oh!! saya lihat ayah saya duduk bersama tamu-tamu, seperti orang yang sedang melayat.
saya lihat oma opa dan adik-adik ayah saya yang lain duduk didekat ayah.
dengan terburu-buru saya hampiri ayah saya peluk erat-erat ayah, semua keheranan.
tiada mereka  tahu bahwa saya kehilangan ayah, bahkan ayah sendiri pun tidak tahu mengapa saya peluk erat-erat dirinya. saya ciumi seluruh wajahnya, saya rasakan wanginya yang selanjutnya saya kenang-kenangkan. saya ciumi berulang-ulang. saya duduk dipangkuannya, melingkarkan lengan saya pada badannya, dan menciumi wajahnya penuh kerinduan, semua keheranan.

saya rasakan tubuh saya melayang, ah tapi perut saya tertekan.
ternyata saya tida terbang, tapi saya sedang berada diatas ayah saya, digendongnya saya seperti dulu.
ayah gendong saya menglilingi taman komplek depan rumah saya, tiada yg bisa setarakan rasa bahagia yang saya rasakan hari itu.

oh, mimpi yang lain.

***

melalui 6 mimpi saya temukan 6 surga yang berbeda-beda.
melalui 6 mimpi saya dijadikan terhanyut, menyembunyikan diri dari realita bahwa ayah saya sudah mendahului.
melalui 6 mimpi, saya menantikan surga-surga lainnya dalam mimpi yang ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan seterusnya.

itulah 6 mimpi yang saya ceritakan dengan gaya bahasa berbeda-beda.
6 mimpi yang selalu akan saya abadikan dalam memori otak saya.