Aku bahkan sudah mulai melupakan garis wajahmu, detailnya memudar.
Seberapa rapat pori rambut mengisi dagumu?
Apakah hidungmu meruncing dibawah atau berjembatan tinggi antara mata?
Mampu kuhitung banyaknya kali mata kita berjarak jengkal.
Tidak lebih dari satu kali!
Namun aku sempat seksama mencuri dan menyalin rautmu pada secarik memoriku.
Telah kucirikan guratmu yang melintas sepanjang tapis nyaris pada kelopak.
Gurat yg membuat rambut alismu tumbuh tiada rata.
Belum sempat kutanyakan, apa yang telah terjadi?
Ingatkah kamu detail wajahku?
Dapatkah kamu sebutkan warna iris mataku?
Dapatkah kamu ingat lengkung busur pada bibirku?
Lucunya kini kita saling membenci,
Tanpa pernah bertatap bersentuh dan bertutur.
Lucunya kini kita saling tidak mau tahu, apakah keadaan benar adanya seburuk ini?
Lihatlah mataku, ingat warna irisnya, mereka bukan hitam bagi sebagian orang.
Lihatlah mataku, ada ketajaman sinis bekas kartu dendam yang disusun rapi.
Lihatlah mataku, ada jendela menembus bilik.
Sudikah berkunjung?
Aku juga takkan segan bila kamu mengundangku, masuk lewat jendela yang nyaris bergurat.
Masuklah ke bilikku dan tanyakan aku jawaban, pula jawabkan aku pertanyaan.
Mengapa begitu murka?
0 cuapan:
Posting Komentar
just write what you think