Minggu, 05 Juni 2016

Konfrontasi yang dipublikasi untuk seseorang yang spesifik 😏

Aku bahkan sudah mulai melupakan garis wajahmu, detailnya memudar.
Seberapa rapat pori rambut mengisi dagumu?
Apakah hidungmu meruncing dibawah atau berjembatan tinggi antara mata?

Mampu kuhitung banyaknya kali mata kita berjarak jengkal.
Tidak lebih dari satu kali!
Namun aku sempat seksama mencuri dan menyalin rautmu pada secarik memoriku.
Telah kucirikan guratmu yang melintas sepanjang tapis nyaris pada kelopak.
Gurat yg membuat rambut alismu tumbuh tiada rata.
Belum sempat kutanyakan, apa yang telah terjadi?

Ingatkah kamu detail wajahku?
Dapatkah kamu sebutkan warna iris mataku?
Dapatkah kamu ingat lengkung busur pada bibirku?

Lucunya kini kita saling membenci,
Tanpa pernah bertatap bersentuh dan bertutur.
Lucunya kini kita saling tidak mau tahu, apakah keadaan benar adanya seburuk ini?

Lihatlah mataku, ingat warna irisnya, mereka bukan hitam bagi sebagian orang.
Lihatlah mataku, ada ketajaman sinis bekas kartu dendam yang disusun rapi.
Lihatlah mataku, ada jendela menembus bilik.
Sudikah berkunjung?

Aku juga takkan segan bila kamu mengundangku, masuk lewat jendela yang nyaris bergurat.

Masuklah ke bilikku dan tanyakan aku jawaban, pula jawabkan aku pertanyaan.
Mengapa begitu murka?

Selasa, 05 Januari 2016

aku mau kamu tahu

Kebenarannya adalah...
Aku memperhatikan hidupku, ternyata berpola.
Libur akhir semester datang, genap maupun ganjil, dari dahulu.
Lantas aku selalu mencari hiburan, untuk mengisi liburanku.
Aku bertemu macam2 pria, dari setiap liburan.
Berkenalan, mengenal lebih dalam, menghabiskan waktu bersama, makan siang, makan malam, memberi kabar, bercerita, mendengar, berkelakar, bermain hati, terbawa perasaan.
Itu terjadi, berkali-kali.
Itu terjadi, disetiap liburan akhir semesterku.
Itu terjadi, dengan pria yang berbeda-beda.

Akhirnya?
Aku bosan, aku telah menyelesaikan ceritanya.
Akhirnya?
Libur berakhir, lantas aku pergi.
Akhirnya?
Aku bersekolah, aku melupakan manis itu dengan mudah

Lalu, kamu adalah liburan ganjilku yang kesekian.
Aku menikmatinya, aku rasa kamu menarik.
Kamu adalah permainan baruku, dari awal aku tahu itu.
Kamu adalah permainan yang akan kuselesaikan hingga sekolah mulai lagi.
Kamu adalah sama, kamu adalah pola, kamu adalah rutinitasku.

Tetapi, diluar semua kebiasaan itu ada yg berbeda dari permainan kita kali ini.
Kamu sulit!
Aku nyaris kalah.
Kita membicarakannya,
aku pikir aku menang pada akhirnya, seri setidaknya.
Tapi salahkah aku?
Kalahkah aku?
Telakkah aku?

Kamu tidak pernah mencuri hatiku,
Aku tidak pernah menginginkanmu,
Aku hanya ingin menaklukanmu,
Menguji diriku, seperti liburan-liburan sebelumnya.

Liburan berakhir, seharusnya aku sibuk.
Melupakan manisku semudah liburan-liburan sebelumnya.
Tapi aku mengenang semuanya nyata-nyata.

Akhirnya kini aku sadar,
Kamu adalah karmaku.