hello there!
it's been awhile.
"i am sorry for abandoning you, i'm sorry for how i've treated you"
should i be sorry?
i know how awful i treated you,
and i know how terrible i took all of your senses away in the end of that month.
you were my holiday.
you were my dallience.
do you want an explaination?
do you need a closure?
should i give you one?
i don't even know if i have any.
but, i am sorry.
i'm sorry for what i've done to you, for what i have made you turned into.
Now you curse the moment we met, now i wish the best of luck for you.
i really do, i really am.
Jumat, 29 Mei 2015
Senin, 18 Mei 2015
Gula -- my unfinish (maybe) ode to a friend
Saya pikir kedua matanya bebas dan
lepas, maksud saya—sehat. Tetapi ternyata kedua mata itu berbingkai bilamana
saya melihatnya untuk pertama kali secara langsung. Saya mengenal wajahnya
terlebih dahulu melalui sebuah gambar, oh, betapa berbeda. Manis. Kamu tahu,
ada beberapa gula yang memiliki kemasan yang sangat menggemaskan, bahkan
kemasan tersebut adalah alasan mengapa kamu mau membeli gula tersebut. Tetapi
ada pula gula yang memiliki kemasan buruk rupa, namun kamu tahu bahwa gula
itulah yang ingin lidahmu kecap, jadi pada akhirnya kamu tidak peduli. Lelaki
ini, adalah gula yang lidah saya ingin kecap dan mata saya ingin resapi. Dia
manis di luar dan di dalamnya.
Lelaki ini sering tersenyum, dan
gelaknya bukan hal yang akan jarang kamu dengar ditengah pembicaraanmu
dengannya. Saya tahu dia ceroboh, saya bisa mengatakannya dari cara dia
bercerita—dan tentu saja isi ceritanya. Saya pandangi teman saya yang manis
ini, oh, Tuhan, bukankah saya pengamat yang menakutkan? pori-pori wajahnya
berdempet satu sama lain terisi penuh oleh rambut yang dicukur, rona abu-abu
kebiruan melintas sepanjang baji hingga dagunya. Senyumnya sore itu, dengan
matanya yang memicing, sinar matahari menyorotnya dari belakang. Semuanya
terlihat kuning keemasan. Silau. tapi saya tahu dia adalah gula yang mata saya
ingin resapi.
Dia datang kedalam hidup saya
begitu cepat, dan saya menyukainya. Dengannya, saya dapat membicarakan banyak
hal, tentunya mengenai hal-hal yang biasa dibicarakan oleh kaum mudi, namun
yang berbeda ialah, dengannya saya dapat mengemukakan pendapat saya tanpa
merasa canggung. Dia adalah lagu favoritmu di dalam sebuah toko kopi dan kue,
dia adalah kegembiraan ditengah kehikmatan orang dengan kopi dan lawan
bicaranya.
Apa yang cari selama ini? Kalau
bisa saya gambarkan, diri saya adalah perempuan diawal usia dewasanya yang
sangat menikmati kesendirian, perempuan yang menghabiskan waktunya sendirian di
dalam toko kopi, dengan secangkir kopi dan tisunya diatas meja, telefon genggam
atau sesekali buku fiksi di kedua genggamannya, dan beberapa tas karton berisi
barang belanjaan menduduki kursi-kursi kosong disampingnya—yang dibeli untuk
menyenangkan hatinya. lagi, apa yang cari? Saya mencintai kesendirian saya, dan
saya memiliki kemampuan tinggi untuk menggembirakan diri saya sendirinya.
Tetapi, lelaki ini datang, seperti lagu bossa nova yang selalu saya harapkan
diputar di dalam toko kopi tersebut, lagu yang membuat saya tenang dan
menikmati kesendirian saya lebih lagi. Dia adalah teman saya yang manis
ditengah hidup saya yang berjalan buru-buru tanpa ingat untuk menunggu saya.
Saya membuka kemasan menggemaskan
gula ini, saya lihat wujud gulanya sendiri. Saya sentuh permukaannya yang
mengkilap kering. Bergores. Apakah gula ini yang lidah saya ingin kecap? Saya
mencoba memahami aroma dari gula saya yang manis ini. Hambar bau. Hambar rasa?
Saya belum tahu. Apakah gula ini manis? Apakah teman saya ini baik-baik saja?
Kini semua terasa lambat. Apakah
kemampuan saya mengejar kehidupan saya yang buru-buru itu membaik? Saya tidak
mengerti. Kupu-kupu sudah pergi dari perut saya, dan saya baru menyadarinya.
Ada apa dengannya? Nampaknya dia bukan lagi gula yang lidah saya ingin kecap.
Mungkin saya tidak menginginkannya sebagai lagu bossa nova yang selalu saya nantikan.
Mungkin saya lebih membutuhkannya sebagai buku fiksi saya atau sekadar
secangkir kopi saya
***
yhaaa gue hanyalah manusia biasa yang juga payah dalam menulis walaupun katanya sih suka nulis. gue ngerasa tulisan gue ini masih ga fokus, dan benang merah, klimaks, maupun penutup dari tulisan ini masih belum greget :'( btw gue udh lama bgt ga nulis, sekalinya mau nulis kagok gini dan otak berasa sangat mampet, majal.
mungkin suatu saat gue revisi ini tulisan. tapi untuk sekarang, gue hanya ingin membagi :)