Sabtu, 24 Agustus 2013

khayalan, fiksi, dll

Akan ada saatnya dimana daratan di bumi tinggal tersisa sekitar 5%. Karena kamu tahu, ada teori mengatakan sebenarnya Indonesia adalah kumpulan-kumpulan daratan yang terletak dibawah permukaan laut, seiring dengan berjalannya waktu dan proses geologis maka daratan-daratan itu naik ke permukaan dan jadilah kepulauan yang kini merupakan sebuah negara. Dan pada dasarnya semua proses akan terus berjalan, membentuk beberapa fase, dan pada akhirnya fase terakhir dari proses itu adalah wujud awal dari proses itu sendiri. Kepulauan itu kini akan terbenam kembali dibawah permukaan laut.

Pemerintah sudah kehabisan dana untuk membiayai penelitian para ilmuwan yang getol mencari planet baru untuk dinaungi. Planet-planet selain bumi rata-rata memiliki suhu yang ekstrem dan komposisi gas di dalamnya tidak memungkinkan manusia untuk hidup disana. Manusia membutuhkan oksigen, itulah kebutuhan kita yang paling mendasar. Para ilmuwan menciptakan alat yang dapat mereaksikan senyawa kimia di planet tersebut agar dapat menghasilkan oksigen, tapi lagi-lagi, hal itu tidak efektif dan biayanya terlalu mahal. Beratus-ratus sidang telah dilaksanakan untuk pengujian alat tersebut, dan pertimbangan keefektifan dan dampak-dampaknya menjadi buah tutur segala manusia di penjuru bumi.

Perkumpulan para menteri dari seluruh negara memutuskan bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Pengoperasian alat maha mutakhir itu ditimbang terlalu boros dan tidak efektif. Apabila hal tersebut dipaksakan, pengangkutan milyaran umat manusia untuk berhijrah ke planet baru itu pun dihitung terlalu mahal. Maka, disiarkanlah hasil sidang itu secara global dalam waktu serentak bersamaan; Manusia tidak akan pindah kemana-mana.

Manusia berhenti menaklukan alam, kini manusia berusaha berdamai dengan alam. Bumi lah satu-satunya planet darimana manusia berasal, setelah milyaran tahun berlangsung segala proses dan evolusi serta revolusi, ikatan antara manusia dan bumi ini sudah terlalu mengakar. Bumi secara dinamis selalu berubah dari masa ke masa, fase ke fase yang berbeda-beda, dengan tenggang waktu yang amat sangat lama, dan manusia bertahan. Kini proses telah mengembalikan fase menjadi ke awal, bumi adalah lautan, 95% daratan telah terbenam, 5% masih berada diatas. Dan kamu tahu, betapa tipis sebenarnya batas antara kedalaman dan permukaan.

Evolusi. Meganthropus palaeojavanicus, manusia purba tertua yang ditemukan di Pulau Jawa, betapa besar dan serupa Gorilla kah dia? berjalan terbungkuk khas primata, lalu lama-kelamaan, proses geologi bumi dan adaptasi membuat ia berhijrah dan menjadi lebih pintar dan lebih kecil, karena ia mulai mengetahui bercocok tanam, dan ia mulai berhenti berburu. Kini si Gorilla besar nan bungkuk menjadi tegaklah ia, Pithecanthropus Erectus. Beradaptasi lagi, Pithecanthropus Erectus kini lebih suka berpikir, berevolusilah mereka menjadi Homo Sapiens, manusia purba yang paling mendekati karakteristik manusia modern sekarang ini.

Kini manusia modern pula mesti beradaptasi dengan keadaan alam yang hampir semuanya lautan. Air laut membuat kulit kita kering dan bersisik, dan kini lelaki tampan adalah mereka yang bersisik paling banyak dan penuh, bukti penaklukan dia terhadap air laut. Rambut para wanita kini kasar dan mudah kusut, wanita yang cantik kini adalah mereka yang dapat menjaga kelembaban rambutnya. Para wanita berlomba-lomba kedaratan untuk mencari buah kelapa dan membuat minyak kelapa sendiri untuk perawatan rambutnya. Adaptasi pula mengubah cara kerja paru-paru kita, paru-paru kita kini mampu mengatur respirasi agar kita dapat bertahan lebih lama dengan kadar oksigen yang lebih sedikit, seperti lumba-lumba. Kita tetap akan kepermukaan air untuk mengambil nafas dan oksigen yang kita punya dalam satu tarikan nafas dapat bertahan kurang lebih 40 menit.

Umat manusia menata ulang hidupnya. Kini tidak ada lagi yang namanya politikus. Kita kini hidup berkoloni, seperti berrukun tetangga saat kita masih di daratan dulu. Satu koloni hanya terdiri dari 5 sampai 10 keluarga, dan masing-masing koloni hanya memiliki satu pemimpin, tanpa wakil, tanpa sekretaris, tanpa bendahara, atau yang lainnya. Kini kita tidak lagi perlu membeli untuk makan, kita berburu, seperti pada zaman prasejarah. Betapa dunia ini bersifat repetitif. Dan kita tidak lagi memasaknya, mungkin beberapa wanita mengolahnya sederhana agar lebih mudah dimakan, tapi tetap tidak dimasak. Kamu tahu, air laut mensucikan segala benda di dalamnya, dan kita diperkenankan  untuk memakan bangkai.

Kita berenang, berenang, dan berenang. Lama-kelamaan antara setiap jari-jemari  tangan maupun kaki kita berselaput, seperti kaki bebek. Dan itu adalah hal yang biasa terjadi diantara kita, dengan ekonomi menengah kebawah. Sedangkan mereka kaum menengah keatas, ntah dari sisa hartanya didaratan atau hasil perniagaannya dilautan kini, mereka dapat ke klinik yang tersedia di beberapa daratan untuk minta disilangkan. Direkaya gen-gennya. Dan berekorlah mereka bak putri duyung. Mereka berinsang tingkat rendah dan mereka bersirip. Mereka yang kaya biasanya lebih bertahan lama di lautan karena keleluasaannya tinggal di air lebih lama. Karena mereka kini adalah ikan jadi-jadian yang indah dan cantik.

Mungkin beberapa dari kamu bertanya-tanya bagaimana cara kita bereproduksi kini. Mereka yang masih berwujud manusia tentu kamu tahu caranya, dan ketika sel ovum si wanita telah dibuahi maka mengandunglah ia selama sembilan bulan, kalau pasangan itu memiliki uang yang cukup, mereka bisa langsung mengunjungi klinik fertilitas untuk mendesain bayi mereka agar berekor pula bersirip, seperti teknologi Designer Baby yang pada zaman sekarang pun telah beroperasi, teknologi tersebut pada dasarnya lahir dari teknologi rekayasa genetika. Nah, mereka si kaum kaya yang telah berwujud ikan jadi-jadian yang indah dan cantik itu, ‘bergumul’ selayaknya ikan jantan dan betina. Setelah sel kelamin mereka melebur, si wanita duyung pun mengandung telur, dan kelak menetaslah duyung-duyung baru di lautan.


Sesungguhnya manusia tidak bisa menikahi ikan jadi-jadian yang indah dan cantik itu, karena kini alat reproduksi mereka sudah berbeda, walaupun sel kelamin mereka masih jelas serupa; Ovum dan Sperma. Maka, sedihnya, kaum kaya akan tetap kaya dengan ekor, sirip, dan insang tingkat rendah yang memungkinkan mereka untuk hidup leluasa di lautan. Sedangkan kaum miskin akan tetap miskin dengan keterbatasan mereka untuk hidup di lautan.

0 cuapan:

Posting Komentar

just write what you think