Akan ada saatnya dimana daratan di bumi tinggal tersisa
sekitar 5%. Karena kamu tahu, ada teori mengatakan sebenarnya Indonesia adalah
kumpulan-kumpulan daratan yang terletak dibawah permukaan laut, seiring dengan
berjalannya waktu dan proses geologis maka daratan-daratan itu naik ke
permukaan dan jadilah kepulauan yang kini merupakan sebuah negara. Dan pada
dasarnya semua proses akan terus berjalan, membentuk beberapa fase, dan pada
akhirnya fase terakhir dari proses itu adalah wujud awal dari proses itu
sendiri. Kepulauan itu kini akan terbenam kembali dibawah permukaan laut.
Pemerintah sudah kehabisan dana untuk membiayai penelitian
para ilmuwan yang getol mencari planet baru untuk dinaungi. Planet-planet
selain bumi rata-rata memiliki suhu yang ekstrem dan komposisi gas di dalamnya
tidak memungkinkan manusia untuk hidup disana. Manusia membutuhkan oksigen,
itulah kebutuhan kita yang paling mendasar. Para ilmuwan menciptakan alat yang
dapat mereaksikan senyawa kimia di planet tersebut agar dapat menghasilkan
oksigen, tapi lagi-lagi, hal itu tidak efektif dan biayanya terlalu mahal. Beratus-ratus
sidang telah dilaksanakan untuk pengujian alat tersebut, dan pertimbangan
keefektifan dan dampak-dampaknya menjadi buah tutur segala manusia di penjuru bumi.
Perkumpulan para menteri dari seluruh negara memutuskan
bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Pengoperasian alat maha mutakhir
itu ditimbang terlalu boros dan tidak efektif. Apabila hal tersebut dipaksakan,
pengangkutan milyaran umat manusia untuk berhijrah ke planet baru itu pun
dihitung terlalu mahal. Maka, disiarkanlah hasil sidang itu secara global dalam
waktu serentak bersamaan; Manusia tidak akan pindah kemana-mana.
Manusia berhenti menaklukan alam, kini manusia berusaha
berdamai dengan alam. Bumi lah satu-satunya planet darimana manusia berasal,
setelah milyaran tahun berlangsung segala proses dan evolusi serta revolusi,
ikatan antara manusia dan bumi ini sudah terlalu mengakar. Bumi secara dinamis
selalu berubah dari masa ke masa, fase ke fase yang berbeda-beda, dengan
tenggang waktu yang amat sangat lama, dan manusia bertahan. Kini proses telah
mengembalikan fase menjadi ke awal, bumi adalah lautan, 95% daratan telah terbenam,
5% masih berada diatas. Dan kamu tahu, betapa tipis sebenarnya batas antara
kedalaman dan permukaan.
Evolusi. Meganthropus palaeojavanicus, manusia purba tertua
yang ditemukan di Pulau Jawa, betapa besar dan serupa Gorilla kah dia? berjalan
terbungkuk khas primata, lalu lama-kelamaan, proses geologi bumi dan adaptasi membuat
ia berhijrah dan menjadi lebih pintar dan lebih kecil, karena ia mulai
mengetahui bercocok tanam, dan ia mulai berhenti berburu. Kini si Gorilla besar
nan bungkuk menjadi tegaklah ia, Pithecanthropus Erectus. Beradaptasi lagi,
Pithecanthropus Erectus kini lebih suka berpikir, berevolusilah mereka menjadi
Homo Sapiens, manusia purba yang paling mendekati karakteristik manusia modern
sekarang ini.
Kini manusia modern pula mesti beradaptasi dengan keadaan
alam yang hampir semuanya lautan. Air laut membuat kulit kita kering dan
bersisik, dan kini lelaki tampan adalah mereka yang bersisik paling banyak dan
penuh, bukti penaklukan dia terhadap air laut. Rambut para wanita kini kasar
dan mudah kusut, wanita yang cantik kini adalah mereka yang dapat menjaga
kelembaban rambutnya. Para wanita berlomba-lomba kedaratan untuk mencari buah
kelapa dan membuat minyak kelapa sendiri untuk perawatan rambutnya. Adaptasi
pula mengubah cara kerja paru-paru kita, paru-paru kita kini mampu mengatur
respirasi agar kita dapat bertahan lebih lama dengan kadar oksigen yang lebih
sedikit, seperti lumba-lumba. Kita tetap akan kepermukaan air untuk mengambil
nafas dan oksigen yang kita punya dalam satu tarikan nafas dapat bertahan
kurang lebih 40 menit.
Umat manusia menata ulang hidupnya. Kini tidak ada lagi yang
namanya politikus. Kita kini hidup berkoloni, seperti berrukun tetangga saat
kita masih di daratan dulu. Satu koloni hanya terdiri dari 5 sampai 10
keluarga, dan masing-masing koloni hanya memiliki satu pemimpin, tanpa wakil,
tanpa sekretaris, tanpa bendahara, atau yang lainnya. Kini kita tidak lagi
perlu membeli untuk makan, kita berburu, seperti pada zaman prasejarah. Betapa dunia
ini bersifat repetitif. Dan kita tidak lagi memasaknya, mungkin beberapa wanita
mengolahnya sederhana agar lebih mudah dimakan, tapi tetap tidak dimasak. Kamu tahu,
air laut mensucikan segala benda di dalamnya, dan kita diperkenankan untuk memakan bangkai.
Kita berenang, berenang, dan berenang. Lama-kelamaan antara
setiap jari-jemari tangan maupun kaki
kita berselaput, seperti kaki bebek. Dan itu adalah hal yang biasa terjadi
diantara kita, dengan ekonomi menengah kebawah. Sedangkan mereka kaum menengah
keatas, ntah dari sisa hartanya didaratan atau hasil perniagaannya dilautan
kini, mereka dapat ke klinik yang tersedia di beberapa daratan untuk minta
disilangkan. Direkaya gen-gennya. Dan berekorlah mereka bak putri duyung. Mereka
berinsang tingkat rendah dan mereka bersirip. Mereka yang kaya biasanya lebih
bertahan lama di lautan karena keleluasaannya tinggal di air lebih lama. Karena
mereka kini adalah ikan jadi-jadian yang indah dan cantik.
Mungkin beberapa dari kamu bertanya-tanya bagaimana cara
kita bereproduksi kini. Mereka yang masih berwujud manusia tentu kamu tahu
caranya, dan ketika sel ovum si wanita telah dibuahi maka mengandunglah ia
selama sembilan bulan, kalau pasangan itu memiliki uang yang cukup, mereka bisa
langsung mengunjungi klinik fertilitas untuk mendesain bayi mereka agar berekor
pula bersirip, seperti teknologi Designer
Baby yang pada zaman sekarang pun telah beroperasi, teknologi tersebut pada
dasarnya lahir dari teknologi rekayasa genetika. Nah, mereka si kaum kaya yang
telah berwujud ikan jadi-jadian yang indah dan cantik itu, ‘bergumul’
selayaknya ikan jantan dan betina. Setelah sel kelamin mereka melebur, si wanita
duyung pun mengandung telur, dan kelak menetaslah duyung-duyung baru di lautan.
Sesungguhnya manusia tidak bisa menikahi ikan jadi-jadian
yang indah dan cantik itu, karena kini alat reproduksi mereka sudah berbeda,
walaupun sel kelamin mereka masih jelas serupa; Ovum dan Sperma. Maka,
sedihnya, kaum kaya akan tetap kaya dengan ekor, sirip, dan insang tingkat
rendah yang memungkinkan mereka untuk hidup leluasa di lautan. Sedangkan kaum
miskin akan tetap miskin dengan keterbatasan mereka untuk hidup di lautan.


























.jpg)

-001.jpg)


.jpg)
-001.jpg)






